Selasa, 13 Juni 2017

MODEL PEMBELAJARAN TARI BAMBU



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generaasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Dalam proses pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu : sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri (Syaiful Bahri Djamarah, 2002:73).
Guru memegang peran sentral dalam proses belajar mengajar, untuk itu mutu pendidikan di suatu sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan tugasnya (Aqib 2002 : 22).
Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, guru yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebih efektif dan juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut. Upaya  yang dilakukan oleh guru yaitu memilih model pembelajaran yang tepat, menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.  Berdasarkan maslah tersebut, penulis memilih model pembelajaran tari bambu karena model pembelajaran ini tepat di terapkan pada kelas VII SMP mata pelajaran matematika terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
B.     Rumusan Masalah
Beradasarkan latar belakang masalah di atas, dapat rumuskan masalah tersebut sebagai berikut.
1.      Apakah pengertian model pembelajaran Tari Bambu?
2.      Bagaimanakah prinsip-prinsip model pembelajaran Tari Bambu?
3.      Apakah langkah-langkah model pembelajaran Tari Bambu?
4.      Apakah kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Tari Bambu?
5.      Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Tari Bambu pada mata pelajaran Matematika?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi dan teori model pembelajaran Tari Bambu.
2.      Menjelaskan prinsip-prinsip model pembelajaran Tari Bambu.
3.      Untuk mengetahui langkah-langkah model pembelajaran Tari Bambu.
4.      Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Tari Bambu.
5.      Menjelaskan penerapan model pembelajaran Tari Bambu pada mata pelajaran Matematika.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Model Pembelajaran Tari Bambu
Model pembelajaran tari bambu atau bisa disebut juga bamboo dancing termasuk dalam salah satu model pembelajaran kooperatif. Model ini merupakan modifikasi dari teknik lingkaran kecil lingkaran besar yang mana pada proses pembentukan kelompok diskusi  teknik lingkaran kecil lingkaran besar ini siswa membentuk dua buah lingkaran, sedangkan pada teknik tari bambu siswa membentuk kelompok yang berjajar dan saling berhadapan. (Anita Lie, 2008:79).
Belajar kooperatif adalah istilah yang digunakan dalam prosedur pembelajaran interaktif, dimana siswa belajar bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk memecahkan berbagai masalah. Setiap siswa tidak hanya menyelesaikan tugas individualnya, tetapi juga berkewajiban membantu tugas sekelompoknya, sampai semua anggota kelompok memahami suatu konsep. (Kagan, 1992:1).
Belajar kooperatif adalah strategi belajar yang menggunakan kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok dengan siswa dari tingkat kemampuan berbeda, menggunakan aktifitas belajar yang bervariasi untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap suatu konsep (Johnson dan Johnson, 2001 : 1).
Pendapat Sanjaya dalam  (Rusman, 2011:206) bahwa Pembelajaran kooperatif akan efektif digunakan apabila:
1)      Guru menekankan pentingnya usaha bersama disamping usaha secara individual.
2)      Guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar.
3)      Guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri.
4)      Guru menghendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa.
5)      Guru menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan.
Tujuan akhir yang ingin dikembangkan dari pembelajaran kooperatif adalah mengoptimalkan kompetensi individu menjadi kompetensi kelompok dalam mencapai tujuan pembelajaran bersama, hal ini memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlihat secara aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, sebagai fondasi yang baik untuk meningkatkan prestasi siswa.
Pembelajaran dengan menggunakan model Bamboo Dancing serupa dengan model Inside Outside Circle. Pembelajaran diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Guru bisa menulis-kan topik tersebut di papan tulis atau dapat pula guru bertanya jawab apa yang diketahui peserta didik mengenai topik itu. Kegiatan sumbang saran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan struktur kognitif yang telah dimiliki peserta didik agar lebih siap meng-hadapi pelajaran yang baru (Agus Suprijono, 2009 : 98).
Di banyak kelas, keinginan untuk menggunakan teknik Lingkaran Besar Lingkaran Kecil (Inside-Outside Circle) sering tidak biasa dipenuhi karena kondisi penataan ruang kelas yang tidak menunjang. Tidak ada cukup ruang di dalam kelas untuk membentuk lingkaran-lingkaran dan tidak selalu memungkinkan untuk membawa siswa keluar dari ruang kelas dan belajar di luar empat dinding ruang kelas. Kebanyakan ruang kelas di Indonesia memang ditata dengan model klasik atau tradisional. Bahkan banyak penataan tradisional ini bersifat permanen, yaitu kursi dan meja susah dipindahkan.
Teknik ini diberi nama Tari Bambu, karena siswa berjajar dan saling berhadapan dengan model yang mirip seperti dua potong bambu yang digunakan dalam tari bambu Filipina yang juga populer di beberapa daerah di Indonesia. Dalam kegiatan belajar mengajar dengan teknik ini, siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan. Pendekatan ini bisa digunakan dalam beberpa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, matematika, dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang membutuhkan pertukaran pengalaman, pikiran, dan informasi antarsiswa.
Salah satu keunggulan teknik ini adalah adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyaki kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Tari bambu bisa digunakan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Penerapan model tari bambu dapat menarik perhatian dan antusiasme siswa dalam belajar sehingga memabntu bagi siswa untuk memahami materi yang diajarkan. Selain itu, selama pembelajaran, partisipasi aktif dari siswa akan tumbuh. Dengan demikian, pembelajaran akan lebih menarik minat siswa sehingga mempermudah pemahaman. (Isjoni, 2010 : 53)
B.     Prinsip Model Pembelajaran Tari Bambu
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa model pembelajaran tari bambu merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Maka dari itu prinsip pembelajaran kooperatif  adalah sebagai berikut.
Menurut Roger dan David Johnson (Lie,2008) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif (cooperative learning), antara lain:
1)      Prinsip ketergantungan positif  (positive interdependence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam menyelesaikan tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa dengan saling ketergantungan sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka (Sofan Amri dkk. 2010:91)
2)      Akuntabilitas individual dan kelompok, yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Para pendukung pembelajaran kooperatif menyatakan bahwa dua tingkatan akuntabilitas disusun menjadi pelajaran-pelajaran pembelajaran kooperatif. Kelompok harus bertanggung jawab atas pencapaian tujuan-tujuannya dan masing-masing anggota harus bertanggungjawab dalam memberikan kontribusi pekerjaannya. Fasilitator meningkatkan akuntabilitas individual dengan menilai prestasi dari masing-masing individual agar dapat memastikan siapa yang membutuhkan lebih banyak bantuan, dukungan dan anjuran dalam pembelajaran. Pengajar harus mengakui bahwa salah satu tujuan dari kelompok-kelompok pembelajaran koopertif adalah memberikan hak individual yang lebih kuat-para siswa belajar bersama sehingga mereka dapat mencapai kompetensi individual yang lebih besar.
3)      Interaksi tatap muka (face to face promotion interaciton), yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain. Para pebelajar perlu melakukan kerjasama nyata dalam waktu nyata, baik pada ruang pelatihan maupun pada pertemuan-pertemuan di luar ruangan. Selanjutnya, pemrosesan informasi dalam pekerjaan terhadap pencapaian sebuah tujuan, anggota-anggota kelompok harus meningkatkan keberhasilan satu sama lainnya dengan menyediakan sumber daya dan bantuan bersama, mendukung, menganjurkan dan menghargai usaha-usaha anggota-anggota kelompok lainnya. Pengajar seharusnya memberikan contoh-contoh bagaimana kelompok-kelompok seharusnya berfungsi, seperti menjelaskan secara lisan bagaimana memecahkan masalah-masalah, mengajarkan pengetahuan kepada anggota lainnya, memeriksa pemahaman, membahas konsep-konsep yang di pelajari  dan menghubungkan pembelajaran saat ini dengan pembelajaran masa lalu. Dengan melakukan hal tersebut, dinamika-dinamika antar pribadi akan memudahkan pembelajaran. Melalui peningkatan pembelajaran langsung satu sama lainnya, anggota-anggota kelompok memberikan komitmen secara personal kepada anggota-anggota kelompok lainnya dan juga tujuan-tujuan bersamanya.
4)      Partisipasi dan komunikasi (participation communication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
5)      Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
C.    Langkah-langkah Model Pembelajarn Tari Bambu
1.      Penulisan topik di papan tulis atau mengadakan tanya jawab dengan siswa.
2.      Separuh kelas atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak berdiri berjajar. Jika ada cukup ruang mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu relatif singkat.
3.      Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
4.      Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi sinformasi.
5.      Kemudian satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing siswa mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan
Adapun menurut (Anita Lie, 2008 : 83) pembelajaran kooperatif teknik tari bambu memiliki beberapa tahap. Adapaun tahapannya adalah sebagai berikut :
1.      Separuh kelas (seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak) duduk berjajar. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku.
2.      Separuh kelas lainnya berjajar dengan menghadap jajaran yang pertama.
3.      Dua kelompok yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi informasi.
4.      Salah satu kelompok bergeser atau berpindah ke kelompok lainnya di jajarannya. Dengan cara ini, masing-masing kelompok mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus menerus sesuai dengan kebutuhan.
Dibawah ini adalah ilustrasi posisi kelompok dan cara berpindah kelompok pada penerapan model pembelajaran tari bambu.




































Text Box: 1
2
3
4
5


Text Box: 1
2
3
4
5










Text Box: 1
2
3
4
5



Text Box: 1
2
3
4
5




















Text Box: 1
2
3
4
5

B
 
A
 







Text Box: Gambar 1.1 Posisi dan cara berpindah kelompok pada penerapan model pembelajaran tari bambu
D
 
C
 




F
 
E
 









H
 
G
 














Gambar 1.2 Siswa berdiskusi                          Gambar 1.3 bergabung dengan  di kelompok masing-masing                            kelompok B dan Kelompok C
                                                                            bergabung dengan kelompok D

D.    Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Tari Bambu
Kelebihan model pembelajaran tari bambu (Bamboo Dancing) adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan konsep sendiri dengan cara memecahkan masalah.
2.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan kreatifitas dalam melakukan komunikasi dengan teman sekelompoknya.
3.      Membiasakan siswa untuk bersikap terbuka namun tegas.
4.      Meningkatkan motivasi belajar siswa.
5.      Membantu guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Kelemahan teknik tari bambu dalam pembelajarannya adalah sebagai berikut:
1.      Diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan diskusi.
2.      Seperti belajar kelompok biasa, siwa yang pandai menguasai jalannya diskusi, sehingga siswa yang kurang pandai kurang kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
3.      Yang tidak terbiasa dengan kelompok belajar merasa asing dan sulit untuk bekerja sama.
4.      Kemungkinan siswa untuk bermain-main lebih besar (tidak terkondisikan).
E.     Aplikasi Model Pembelajaran Tari Bambu Matematika
a)      Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan guru memberikan motivasi untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, memberikan perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang kepada siswa, dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk menjadikan siswa lebih siap dalam menerima pelajaran.
Secara spesifik meliputi hal :
-          Memberikan sugesti yang positif
-          Memberikan tujuan yang jelas dan bermakna
-          Membangkitkan rasa ingin tahu siswa
-          Menciptakan lingkungan emosional yang positif
-          Banyak bertanya dan mengemukakan berbagai masalah
-          Merangsang rasa ingin tahu siswa
-          Mengajak pembelajar siswa terlibat penuh
b)      Kegiatan inti
Pada kegiatan inti ini terlebih dahulu guru menyampaikan materi pelajaran yang akan dipelajari siswa. Guru menjelaskan sub-sub pokok bahasan kemudian guru melakukan interaksi terhadap siswa yaitu melakukan tanya jawab.
Hal-hal yang harus dilakukan :
-          Guru memberikan informasi tentang teknis pembelajaran kooperatif teknik tari bambu
-          Guru membagi Separuh kelas berdiri berjajar. Siswa berjajar di sela-sela deretan bangku.
-          Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama, begitupun sebaliknya.
-          Guru memberikan materi yang berbeda kepada setiap pasangan.
-          Guru meminta setiap kelompok berdiskusi dengan pasangan masing-masing sesuai dengan materi yang di dapat.
-          Guru mengawasi dan membimbing siswa. Siswa boleh bertanya kepada guru jika siswa membutuhkan bimbingan dalam menyelesaikan tugasnya.
-          Dua kelompok  yang berpapasan dari kelompok yang saling beradapan dan setiap kelompok yang perpasangan saling tukar informasi.
-          Guru mengawasi dan membimbing siswa saat terjadi perpindahan diskusi antar siswa.
c)      Penutup
-          Guru memilih setiap masing-masing kelompok mengutus perwakilan dari kelompoknya untuk mempresentasikan hasil akhir dari diskusi mereka.
-          Siswa bertanya tentang apa yang belum dimengarti siswa dan mendiskusikan kepada guru.
-          Guru menegaskan konsep yang benar dan meluruskan konsep yang salah.
-          Guru mengarahkan siswa dalam menyimpulkan materi yang baru dipelajari.
-          Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah dan menginformasikan kembali kepada kepada siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
d)     Evaluasi
-          Pada setiap akhir pembelajaran, guru mengadakan evaluasi dengan cara memberikan soal latihan yang dikerjakan secara individu oleh siswa.
e)      Penghargaan kelompok
-          Guru memberikan penghargaan kepada setiap kelompok

PENERPAN MODEL PEMBELAJARAN TARI BAMBU PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA TERHADAP MATERI OPERASI HITUNG PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT
1.      Tahap persiapan (kegiatan pendahuluan)
a.       Guru masuk kelas, kemudian memberi salam dan mengajak siwa-siswinya untuk berdoa terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran.
b.      Guru menciptakan suasana nyaman dan memberi motivasi kepada siwa-siswinya agar saat pembelajaran berlangsung siswa-siswi  berperan aktif, antusias dan saling bertukar pikiran salah satunya dengan cara tanya jawab
c.       Guru memulai pelajaran pada materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Terlebih dahulu guru menyampikan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, serta Tujuan Pembelajaran yang hendak dicapai.
A.    Standar Kompetensi
1. Memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan dan penggunaannya dalam pemecahan masalah
B.     Kompetensi Dasar
1.1 Melakukan operasi hitung bilangan bulat
C.     Indikator
o   Melakukan operasi penjumlahan pada bilangan bulat
o   Mengidentifikasi sifat-sifat penjumlahan bilangan bulat
o   Melakukan operasi pengurangan pada bilangan bulat
D.    Tujuan Pembelajaran
o   Siswa dapat melakukan operasi penjumlahan pada bilangan bulat
o   Siswa dapat mengetahui sifat-sifat penjumlahan bilangan bulat
o   Siswa dapat melakukan operasi pengurangan pada bilangan bulat
2.      Kegiatan Inti
Guru terlebih dahulu mengenalkan topik pelajaran yang akan disampaikan kemudian menjelaskan materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
a.       Guru menjeaskan materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat , seperti :
A.    Penjumlahan bilangan bulat
1)      Dengan alat bantu
Dalam menghitung hasil penjumlahan dua bilangan bulat, dapat digunakan dengan menggunakan garis bilangan. Bilangan yang dijumlahkan digambarkan dengan anak panah dengan arah sesuai dengan bilangan tersebut. Apabila bilangan positif, anak panah menunjuk ke arah kanan. Sebaliknya, apabila bilangan negatif, anak panah menunjuk ke arah kiri (Dewi Nurhaini dan Tri Wahyuni, 2008 : 7).
Contoh:
Hitunglah hasil penjumlahan 6 + (–8) dengan menggunakan garis bilangan.
Penyelesaian :


Untuk menghitung 6 + (-8), langkah-langkahnya sebagai berikut.
a)      Gambarlah anak panah dari angka 0 sejauh 6 satuan ke kanan sampai pada angka 6.
b)      Gambarlah anak panah tadi dari angka 6 sejauh 8 satuan ke kiri.
c)      Hasilnya, 6 + (-8) = -2
2)      Tanpa alat bantu
B.     Sifat-sifat penjumlahan bilangan bulat
1.      Sifat tertutup
Pada penjumlahan bilangan bulat, selalu menghasilkan bilangan bulat juga. Hal ini dapat dituliskan sebagai berikut. Untuk setiap bilangan bulat a dan b, berlaku a + b = c dengan c juga bilangan bulat.
2.      Sifat komutatif
Sifat komutatif disebut juga sifat pertukaran. Penjumlahan dua bilangan bulat selalu diperoleh hasil yang sama walaupun kedua bilangan tersebut dipertukarkan tempatnya. Hal ini dapat dituliskan sebagai berikut. Untuk setiap bilangan bulat  a  dan b, selalu berlaku a + b = b + a.
3.      Mempunyai unsur identitas
Bilangan 0 (nol) merupakan unsur identitas pada penjumlahan. Artinya, untuk sebarang bilangan bulat apabila ditambah 0 (nol), hasilnya adalah bilangan itu sendiri. Hal ini dapat dituliskan sebagai berikut. Untuk sebarang bilangan bulat a, selalu berlaku a + 0 = 0 + a = a.
4.      Sifat asosiatif
Sifat asosiatif disebut juga sifat pengelompokan. Sifat ini dapat dituliskan sebagai berikut. Untuk setiap bilangan bulat a, b, dan c, berlaku (a + b) + c = a + ( b + c).
5.      Mempunyai invers
Invers suatu bilangan artinya lawan dari bilangan tersebut. Suatu bilangan dikatakan mempunyai invers jumlah, apabila hasil penjumlahan bilangan tersebut dengan inversnya (lawannya) merupakan unsur identitas (0 (nol)). Lawan dari a adalah – a, sedangkan lawan dari – a adalah a. Dengan k ata l ain, u ntuk s etiap b ilangan b ulat s elain n ol pasti mempunyai lawan, sedemikian sehingga berlaku a + (– a) = (– a) + a = 0.
C.     Pengurangan bilangan bulat
1.      Dengan alat bantu
Pelajarilah cara menghitung hasil pengurangan dua bilangan bulat dengan bantuan garis bilangan berikut ini.
Contoh : 4 -7 = ?
Penyelesaian:
Untuk menghitung 4 – 7, langkah-langkahnya sebagai berikut.
a)      Gambarlah anak panah dari angka 0 s ejauh 4 s atuan ke kanan sampai pada angka 4.
b)      Gambarlah anak panah tersebut dari angka 4 sejauh 7 satuan ke kiri sampai pada angka –3.
c)      Hasilnya, 4 – 7 = –3.

2.      Tanpa alat bantu
Pada pengurangan bilangan bulat, mengurangi dengan suatu bilangan sama artinya dengan menambah dengan lawan pengurangnya. Secara umum, dapat dituliskan sebagai berikut. Untuk setiap bilangan bulat a dan b, maka berlaku ab = a + (– b).
b.      Setelah guru menyampaikan materi tersebut, guru membagi siswa kedalam 2 kelompok. Separuh kelas berdiri berjajar di sela-sela deretan bangku. Kemudian separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama begitupun sebaliknya.
c.       Guru menamai setiap siswa sebagai berikut.  Siswa yang diberi tugas dari guru untuk menyampiakan, menjelaskan kepada pasangannya diberi nomor dari 0-10 dan untuk pasangnnya diberi huruf A-J yang akan mendengarkan, menyimak, mengomentari dan menanggapi serta pasangan tersebut terjadi diskusi. Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini:

Text Box: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Kelompok A



Text Box: A B C D E F G H I J
 




Text Box: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10                                       Kelompok B



Text Box: A B C D E F G H I J
 



d.      Guru Memberikan tugas kepada setiap siswa yang bernomor 1-10. Rinciannya sebagai berikut:
Kelompok A.
Siswa nomor ke:
1.      Menjelaskan penjumlahan bilangan bulat dengan alat bantu
2.      Memberikan contoh penjumlahan bilangan bulat dengan alat bantu
3.      Menjelaskan dan mendiskusikan soal 1 pada buku paket “Contextual Teaching and Learning Matematika” kelas VII pada soal penjumlahan bilangan bulat dengan alat bantu (Atik Wintarti dkk, 2008 : 9).
4.      Menjelaskan dan Mendiskusikan Latihan 2 pada buku paket “Pegangan Belajar Matematika” kelas VII pada soal penjumlahan bilangan bulat dengan alat bantu (A. Wagiyo dkk, 2008 : 8).
5.      Menjelaskan penjumlahan bilangan bulat tanpa alat bantu
6.      Memberikan contoh penjumlahan bilangan bulat tanpa alat bantu
7.      Menjelaskan dan mendiskusikan Uji Kompetensi 3 No 1 pada buku paket “Matematika Konsep dan Aplikasinya” kelas VII  pada soal penjumlahan bilangan bulat tanpa alat bantu (Dewi Nurhaini dan Tri Wahyuni, 2008 : 9).
8.      Menjelaskan dan mendiskusikan Uji Kompetensi 3 no 2 pada buku paket “Matematika Konsep dan Aplikasinya” kelas VII  pada soal penjumlahan bilangan bulat tanpa alat bantu (Dewi Nurhaini dan Tri Wahyuni, 2008 : 9).
9.      Menjelaskan sifat-sifat penjumlahan yaitu sifat tertutup.
10.  Menjelaskan sifat-sifat penjumlahan yaitu sifat komutatif.
Kelompok B
Siswa bernomor ke:
1.      Menjelaskan tentang sifat-sifat pemnjumlahan yaitu sifat Identitas
2.      Menjelaskan tentang sifat-sifat pemnjumlahan yaitu sifat Asosiatif
3.      Menjelaskan tentang sifat-sifat pemnjumlahan yaitu sifat Invers
4.      Menjelaskan pengurangan bilangan bulat dengan alat bantu
5.      Memberikan contoh pengurangan bilangan bulat dengan alat bantu
6.      Menjelaskan dan mendiskusikan Uji Kompetensi 5 pada buku paket “Matematika Konsep dan Aplikasinya” kelas VII pada soal pengurangan bilangan bulat dengan alat bantu. (Dewi Nurhaini dan Tri Wahyuni, 2008 : 14).
7.      Menjelaskan dan Mendiskusikan Contoh 1-2 pada buku paket “Matematika Konsep dan Aplikasinya” kelas VII pada soal pengurangan bilangan bulat dengan alat bantu. (Dewi Nurhaini dan Tri Wahyuni, 2008 : 13-14).
8.      Menjelaskan pengurangan bilangan bulat tanpa alat bantu
9.      Memberikan contoh pengurangan bilangan bulat tanpa alat bantu
10.  Menjelaskan dan mendiskusikan soal 2 pada buku paket “Contextual Teaching adn Learning Matematika” kelas VII  pada soal pengurangan bilangan bulat tanpa alat bantu (Atik Wintarti dkk, 2008 : 10).
Adapun untuk siswa berhuruf A-J yang sebagai pasangan, tugasnya adalah mendengarkan, menyimak, mengomentari dan menanggapi serta mempertanyakan dan kemudian pasangan tersebut terjadi diskusi dan saling tukar pikiran.
e.       Setelah terjadi diskusi antar pasangannya masing-masing, guru menginstruksikan supaya siswa bergeser searah jarum jam. Sudah barang tentu psangan baru terjadi dan mendiskusikan permasalahan yang berbeda. Pergantiannya akan berhenti sampai siswa bernomo 1 kembali ke tempat semula.
f.       Guru mengawasi dan membimbing siswa saat terjadi perpindahan diskusi antar siswa. Guru boleh membantu menjawab pertanyaan siswa apabila ada pertanyaan dari kelompok atau siswa itu sendiri.
3.      Penutup
a)      Guru memilih setiap masing-masing kelompok perwakilan dari kelompoknya untuk mempresentasikan hasil akhir dari diskusi mereka.
b)      Siswa bertanya tentang apa yang belum dimengarti siswa dan mendiskusikan kepada guru.
c)      Guru menegaskan konsep yang benar dan meluruskan konsep yang salah.
d)     Guru mengarahkan siswa dalam menyimpulkan materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
e)      Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah dan menginformasikan kembali kepada kepada siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
4.      Evaluasi
Guru mengadakan evaluasi dengan cara memberikan soal latihan yang dikerjakan secara individu oleh siswa
5.      Penghargaan kelompok
Guru memberikan penghargaan kepada setiap kelompok yang telah mereka diskusikan sampai akhir pembelajaran.

















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Model pembelajaran tari bambu termasuk dalam salah satu model pembelajaran kooperatif. Model ini merupakan modifikasi dari teknik lingkaran kecil lingkaran besar yang mana pada proses pembentukan kelompok diskusi  teknik lingkaran kecil lingkaran besar ini siswa membentuk dua buah lingkaran, sedangkan pada teknik tari bambu siswa membentuk kelompok yang berjajar dan saling berhadapan.
Adapaun tahapannya adalah sebagai berikut :
1.      Separuh kelas (seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak) duduk berjajar. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku.
2.      Separuh kelas lainnya berjajar dengan menghadap jajaran yang pertama.
3.      Dua kelompok yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi informasi.
4.      Salah satu kelompok bergeser atau berpindah ke kelompok lainnya di jajarannya.
Kelebihan model pembelajaran tari bambu (Bamboo Dancing) ini  memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan konsep sendiri dengan cara memecahkan masalah, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan kreatifitas dalam melakukan komunikasi dengan teman sekelompoknya, membiasakan siswa untuk bersikap terbuka namun tegas, meningkatkan motivasi belajar siswa, membantu guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Tak lepas dari itu model pembelajaran tari bambupun mempunyai kelemahan, yaitu diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan diskusi, siswa yang kurang pandai kurang kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya, yang tidak terbiasa dengan kelompok belajar merasa asing dan sulit untuk bekerja sama, kemungkinan siswa untuk bermain-main lebih besar (tidak terkondisikan).
  Oleh karena itu, guru harus bisa menyiasati kelemahan-kelemahan tersebut, dan guru harus bisa menempatkan model pembelajaran tari bambu ini pada situasi dan kondisi yang tepat. Agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan maksimal.



















DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofan dkk. Konstruksi Pengembangan Pembelajaran. Jakarta. Prestasi Pustaka.2010.
Aqib. 2002. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya: cendekia.
Bahri, Syaiful Djamarah. 2002.  Psikologi Belajar. Jakarta: Reika Cipta.
Isjoni. 2010. Cooperative Learning. Bandung : Alfabeta. 
Johnson, DW dan Johnson, R. 1989. Cooperative and Competion : Theoru and Research. Edina, MN : Intraction Book Company.
Kagan, Spencer. 1992. Cooperative Learning. Sun Juan Capistrano : Kagan Cooperative Learning.
Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning Mempraktikan Cooperative Learning di Luar Kelas. Jakarta : Grasindo.
Nurhaini, Dewi dan Tri Wahyuni. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : Rajawali Pers.
Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wagio, A. Dan F. Surarti. Pegangan Belajar Matematika 1 untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan.
Winarti, Atik dkk. 2008. Contextual Teaching and Learning Matematika Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VII Edisi 4. Jakarta: Pusat Perbukuan.
http://007indien.blogspot.com/2012/11/model-pembelajaran-bamboo-dancing-tari.html

0 komentar:

Posting Komentar