Senin, 12 Desember 2016

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CORE

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Dalam belajar matematika, pada dasarnya seseorang tidak terlepas dari pemecahan masalah karena berhasil atau tidaknya seseorang dalam matematika ditandai adanya kemampuan pemecahan masalah yang dihadapinya (Fadillah, 2008). Pemecahan masalah itu penting bukan saja bagi kehidupan siswa dikemudian hari ketika akan mendalami  matematika, tetapi juga mereka yang akan menerapkannya baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari  (Ruseffendi, 1991)

Kamis, 08 Desember 2016

MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan dunia yang sangat pesat dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi membuat persaingan antar negara  semakin ketat. Oleh karena itu sumber daya manusia yang handal dan professional sangat diperlukan serta didukung oleh lembaga pendidikan yang handal pula. Lembaga pendidikan yang handal harus bisa menciptakan suasana belajar yang aktif, efektif dan komunikatif.Kewajiban pendidik sebagai pelaku pendidikan adalah mencari solusi yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Masalah ini tentu harus ada juga faktorlain yang bisa mendukung terciptanya kualitas pembelajaran yang baik, baik itu external maupun internal. Pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja bertujuan dan terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relative menetap pada diri orang lain. Usaha ini dilakukan oleh seseorang atau suatu tim yang memiliki kemampuan dan kompetensi dalam merancang dan atau mengembangkan sumber belajar yang diperlukan (Yusufhadi Miarso, 2005).Dalam hal ini untuk menunjang kegiatan pembelajaran dibutuhkan pula sarana prasarana yang memadai, kalaupun tidak terpenuhi para pendidik harus bisa mencari solusi sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Senin, 05 Desember 2016

MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE




BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam membelajarkan matematika kepada siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik (siswa), kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.

MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE




BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam membelajarkan matematika kepada siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik (siswa), kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.

2.    Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan para pembaca, khususnya para mahasiswa jurusan matematika, fakultas Tarbiayah Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon agar nantinya dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dapat menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan materi pembelajaran.




BAB II
PEMBAHASAN
MODEL PEMBELAJARAN (MATEMATIKA) PICTURE AND PICTURE

1.    Pengertian Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran amat dekat dengan pengertian strategi pembelajaran dan dibedakan dari istilah strategi, pendekatan dan metode pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi,  metode, dan teknik. Sedangkan istilah “strategi “ awal mulanya dikenal dalam dunia militer terutama terkait dengan perang atau dunia olah raga, namun demikian makna tersebut meluas tidak hanya ada pada dunia militer atau olahraga saja akan tetapi bidang ekonomi, sosial, pendidikan. Menurut Ruseffendi (1980), istilah strategi, metode, pendekatan dan teknik mendefinisikan  sebagai berikut :
1.    Strategi pembelajaran adalah separangkat     kebijaksanaan yang terpilih, yang telah dikaitkan dengan faktor yang menetukan warna atau strategi tersebut, yaitu :
a.    Pemilihan materi pelajaran  (guru atau siswa).
b.    Penyaji materi pelajaran (perorangan atau kelompok, atau belajar mandiri).
c.    Cara menyajikan materi pelajaran (induktif atau deduktif, analitis atau sintesis, formal atau non formal).
d.    Sasaran penerima materi pelajaran (kelompok,   perorangan, heterogen, atau  homogen).
2.    Pendekatan Pembelajaran adalah jalan atau arah yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran  dilihat  bagaimana materi itu disajikan. Misalnya memahami suatu prinsip dengan  pendekatan induktif atau deduktif.
3.    Metode Pembelajaran adalah cara mengajar secara umum yang dapat diterapkan pada semua mata pelajaran, misalnya mengajar dengan ceramah, ekspositori, tanya jawab, penemuan terbimbing dan sebagainya.
4.    Teknik mengajar adalah penerapan secara khusus suatu metode pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan media pembelajaran serta kesiapan siswa. Misalnya teknik mengajarkan perkalian dengan penjumlahan berulang.
Sedangkan Model Pembelajaran adalah sebagai suatu disain yang menggambakan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa (Didang : 2005).
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998 : 203), pengertian strategi  (1) ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam dan perang damai, (2) rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Soedjadi (1999 : 101) menyebutkan strategi pembelajaran adalah suatu siasat melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah keadaan pembelajaran menjadi pembelajaran yang diharapkan. Untuk dapat mengubah keadaan itu dapat ditempuh dengan berbagai pendekatan pembelajaran. Lebih lanjut Soedjadi menyebutkan bahwa dalam satu pendekatan dapat dilakukan lebih dari satu metode dan dalam satu metode dapat digunakan lebih dari satu teknik. Secara sederhana dapat dirunut sebagai rangkaian :
 teknik          metode            pendekatan          strategi                  model
Istilah  “ model pembelajaran” berbeda dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan Showers, 1992).
Lebih lanjut  Ismail (2003) menyatakan  istilah Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu : 
1.    rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,
2.    tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
3.    tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan
4.    lingkungan belajar  yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
Berbedanya  pengertian antara model, strategi, pendekatan dan metode serta teknik  diharapkan guru mata pelajaran umumnya dan khususnya matematika mampu memilih model dan mempunyai strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi dan standar kompetensi serta kompetensi dasar dalam standar isi.

2.    Pemilihan Model Pembelajaran Sebagai Bentuk Implementasi Strategi Pembelajaran.
Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu  memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan  Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya  pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.
Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks  (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi.
Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Contoh, setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran,  didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.
Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru.
Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru.
Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Di madrasah, tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru) terhadap peserta didiknya (siswa). Jadi, pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya.
Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Menurut penemunya, model pembelajaran temuannya tersebut dipandang paling tepat diantara model pembelajaran yang lain. Untuk menyikapi hal tersebut diatas, maka perlu kita sepakati hal-hal sebagai berikut :
1.    Siswa Pendidikan Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah banyak yang masih berada dalam tahap berpikir konkret. Model dan metode apapun yang diterapkan, pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep matematika.
2.    Kita tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatan.
3.    Kita dapat memilih salah satu model pembelajaran yang kita anggap sesuai dengan materi pembelajaran kita; dan jika perlu kita dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran.
4.    Model apa pun yang kita terapkan, jika kita kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa, maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif.
5.    Oleh kerena itu komitmen kita adalah sebagai berikut :
a.    Kita perlu menguasai materi yang harus kita ajarkan, dapat mengajarkannya, dan terampil dalam menggunakan alat peraga.
b.    Kita berniat untuk memberikan yang kita punyai kepada para siswa dengan sepenuh hati, hangat, ramah, antusias, dan bertanggung jawab.
c.    Menjaga agar para siswa “mencintai” kita, menyenangi materi yang kta ajarkan, dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa kita sebagai guru dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. Anggaplah kita sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.
Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih  efektif dan efisien.

3.    Pengertian Model Pembelajaran Picture and Picture
Salah satu model yang saat ini populer dalam pembelajaran adalah Model Pembelajaran Picture And Picture model ini   merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asuh. Model Pembelajaran ini sangat cocok untuk pembelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika. Tetapi model ini tepat dapat digunakan dalam mata pelajaran yang lain dengan kemasan dan kreatifitas guru.
Sejak di populerkan sekitar tahun   2002, model pembelajaran mulai menyebar di kalangan guru di Indonesia.
Menurut Agus Suprijono (2009:110) Model pembelajaran Picture and Picture adalah metode belajar yang menggunakan gambar dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis.
Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan. Model Pembelajaran apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik. Dan Kreatif, setiap pembelajarnya harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metoda, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran.
Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar. Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT dalam menggunakan Power Point atau software yang lain.

4.    Prinsip – prinsip Model Pembelajaran Picture and Picture
Prinsip dasar dalam Model Pembelajaran kooperatif Picture and Picture adalah sebagai berikut:
1.    Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2.    Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3.    Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
4.    Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5.    Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6.    Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

5.    Langkah – langkah dalam Model Pembelajaran Picture and Picture
Adapun langkah-langkah dari pelaksanaan Model Pembelajaran Picture and Picture  ini menurut  Hamdani (2011 : 89) adalah sebagai berikut :
1.    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai.
Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indikator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
2.    Memberikan materi pengantar sebelum kegiatan.
Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.
3.    Guru menyediakan gambar-gambar yang akan digunakan (berkaitan dengan materi).
Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh temannya. Dengan picture atau gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dalam perkembangan selanjutnya sebagai guru dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi yang kegiatan tertentu.
4.    Guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau memasangkan gambar-gambar yang ada.
Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan. Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutkan, dibuat, atau di modifikasi.
5.    Guru memberikan pertanyaan mengenai alasan siswa dalam menentukan urutan gambar.
Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indikator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik.
6.    Dari alasan tersebut guru akan mengembangkan materi dan menanamkan konsep materi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indikator yang telah ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indikator yang telah ditetapkan.
7.    Guru menyampaikan kesimpulan.
Di akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran.

6.    Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Picture and Picture
Adapun kelebihan dan kelemahan dari Model Pembelajaran Picture and Picture menurut Istarani (2011:8) adalah :
Kelebihan Model Pembelajaran Picture and Picture :
1.    Materi yang diajarkan lebih terarah karena pada awal pembelajaran guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi secara singkat terlebih dahulu.
2.    Siswa lebih cepat menangkap materi ajar karena guru menunjukkan gambar-gambar mengenai materi yang dipelajari.
3.    Dapat meningkat daya nalar atau daya pikir siswa karena siswa disuruh guru untuk menganalisa gambar yang ada.
4.    Dapat meningkatkan tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa mengurutkan gambar.
5.    Pembelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati langsung gambar yang telah dipersiapkan oleh guru.


Kelemahan  Model Pembelajaran Picture and Picture :
1.    Sulit menemukan gambar-gambar yang bagus dan berkulitas serta sesuai dengan materi pelajaran.
2.    Sulit menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan daya nalar atau kompetensi siswa yang dimiliki.
3.    Baik guru ataupun siswa kurang terbiasa dalam menggunakan gambar sebagai bahan utama dalam membahas suatu materi pelajaran.
4.    Tidak tersedianya dana khusus untuk menemukan atau mengadakan gambar-gambar yang diinginkan.

7.    Aplikasi Model Pembelajaran Picture and Picture pada Pembelajaran Matematika
a.    Pemahaman Matematika
    Pemahaman   matematika    adalah    salah    satu    tujuan   penting    dalam pembelajaran,   memberikan   pengertian   bahwa   materi-materi    yang diajarkan kepada    siswa   bukan    hanya   sebagai   hafalan,    namun lebih dari itu dengan pemahaman siswa dapat lebih   mengerti  akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematis   juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep    yang   diharapkan.     Hal  ini sesuai  dengan  Hudoyo yang menyatakan: “Tujuan mengajar   adalah    agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta didik“. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa siswa kepada tujuan yang   ingin    dicapai yaitu agar bahan yang disampaikan dipahami  sepenuhnya oleh siswa.
     Pemahaman merupakan terjemahan dari istilah understanding yang diartikan sebagai    penyerapan   arti   suatu   materi   yang dipelajari. Lebih lanjut Michener menyatakan bahwa  pemahaman   merupakan   salah satu aspek dalam Taksonomi Bloom.   Pemahaman  diartikan   sebagai penyerapan arti suatu materi bahan yang dipelajari.     Untuk   memahami suatu   objek   secara  mendalam seseorang harus mengetahui:     1) objek itu sendiri; 2) relasinya dengan objek lain yang sejenis; 3) relasinya dengan objek lain yang tidak sejenis; 4) relasi-dual dengan objek lainnya yang sejenis; 5) relasi dengan objek dalam teori lainnya.
     Ada tiga macam pemahaman   matematik, yaitu :  pengubahan (translation), pemberian     arti  (interpretasi)      dan    pembuatan ekstrapolasi (ekstrapolation). Pemahaman translasi digunakan  untuk   menyampaikan informasi dengan bahasa dan bentuk yang lain dan menyangkut pemberian makna dari suatu informasi yang bervariasi. Interpolasi digunakan untuk   menafsirkan maksud  dari  bacaan,   tidak hanya    dengan   kata - kata   dan  frase, tetapi    juga mencakup pemahaman suatu informasi   dari   sebuah   ide.    Sedangkan   ekstrapolasi   mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan   pada sebuah   pemikiran,   gambaran  kondisi dari suatu informasi,   juga   mencakup   pembuatan   kesimpulan   dengan konsekuensi yang sesuai   dengan   informasi   jenjang kognitif ketiga yaitu penerapan (application) yang menggunakan atau menerapkan suatu bahan yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru, yaitu berupa ide, teori atau petunjuk teknis.
     Bloom   mengklasifikasikan    pemahaman    (Comprehension) ke dalam jenjang kognitif kedua yang   menggambarkan suatu pengertian, sehingga siswa diharapkan    mampu    memahami    ide-ide    matematika    bila   mereka dapat menggunakan   beberapa     kaidah   yang   relevan.   Dalam   tingkatan ini siswa diharapkan   mengetahui   bagaimana   berkomunikasi dan menggunakan idenya untuk berkomunikasi. Dalam pemahaman tidak hanya sekedar memahami sebuah informasi tetapi termasuk juga keobjektifan, sikap   dan   makna yang terkandung dari sebuah informasi. Dengan   kata lain   seorang   siswa dapat mengubah suatu informasi yang ada dalam pikirannya kedalam bentuk lain yang lebih berarti.
Ada beberapa jenis pemahaman menurut para ahli yaitu:
1.    Polya, membedakan empat jenis pemahaman:
1.    Pemahaman mekanikal, yaitu  dapat mengingat dan menerapkan sesuatu secara rutin atau perhitungan sederhana.
2.    Pemahaman induktif, yaitu dapat mencobakan sesuatu dalam kasus sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku dalam kasus serupa.
3.    Pemahaman rasional, yaitu dapat membuktikan kebenaran sesuatu.
4.    Pemahaman intuitif, yaitu dapat memperkirakan kebenaran sesuatu tanpa ragu-ragu, sebelum menganalisis secara analitik.
2.    Polattsek, membedakan dua jenis pemahaman:
1.    Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, atau mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja.
2.    Pemahaman fungsional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
3.    Copeland, membedakan dua jenis pemahaman:
1.    Knowing how to, yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara rutin/algoritmik.
2.    Knowing, yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan proses yang dikerjakannya.
4.    Skemp, membedakan dua jenis pemahaman:
1.    Pemahaman instrumental, yaitu hafal sesuatu secara terpisah atau dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja.
2.    Pemahaman relasional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
     Pemahaman instrumental diartikan sebagai pemahaman konsep yang saling terpisah dan hanya hafal rumus dalam perhitungan sederhana. Dalam hal ini seseorang hanya memahami urutan pengerjaan atau algoritma. Sedangkan pemahaman relasional termuat skema atau struktur yang dapat digunakan pada penjelasan masalah yang lebih luas dan sifat pemakaiannya lebih bermakna.
     Sedangkan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap konsep matematika menurut NCTM (1989 : 223) dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam:  (1) Mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan; (2) Mengidentifikasi dan membuat contoh dan bukan contoh; (3) Menggunakan model, diagram dan simbol-simbol untuk merepresentasikan suatu konsep; (4) Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lainnya; (5) Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep; (6) Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat yang menentukan suatu konsep; (7) Membandingkan dan membedakan konsep-konsep.
     Pemahaman matematis penting untuk belajar matematika secara bermakna, tentunya para guru mengharapkan pemahaman yang dicapai siswa tidak terbatas pada pemahaman yang bersifat dapat menghubungkan. Menurut Ausubel bahwa belajar bermakna bila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat mengkaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimiliki. Artinya siswa dapat mengkaitkan antara pengetahuan yang dipunyai dengan keadaan lain sehingga belajar dengan memahami.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis. Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan. Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran.
Prinsip dasar dalam model pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut:
1.    Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2.    Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3.    Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
4.    Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5.    Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6.    Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Langkah-langkah dalam Model Pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut:
1.    Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.    Menyajikan materi sebagai pengantar.
3.    Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi.
4.    Guru menunjuk siswa secara bergantian untuk mengurutkan gambar-gambar secara logis
5.    Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6.    Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7.    Kesimpulan/rangkuman




DAFTAR PUSTAKA

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV Pustaka Setia.
http://sadiman2007.blogspot.com/2010/02/model-pembelajaran-picture-and-picture.html
Istarani, 2011. 58 Model Pembelajaran Inovatif (Referensi Guru Dalam Menentukan Model Pembelajaran). Medan : Media Persada.
Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Jumat, 02 Desember 2016

MODEL PEMBELAJARAN Inside Outside Circle (IOC)




BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan adalah salah satu aspek dasar untuk membangun suatu bangsa dan negar. Di dalam suatu penyelanggaraan pendidikan di sekolah terdapat guru sebagai pendidik dan siswa sebagai perserta didik dan diwujudkan dengan adanya interaksi antara guru dengan murid melalui kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini guru dituntut untuk menyelnggarakan suatu kegiatan pembelajaran yang sistematis, inovatif dan sesuai dengan kurikulum. Suatu pembelajaran agar tujuannya tercapai dengan baik maka dibutuhkan suatu strategi pembelajan, teknik, metode, dan pendekatan pembelajaran.

Rabu, 30 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Meningkatkan prestasi siswa sangat tergantung bagaimana proses belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Menurut Fontana dalam Suherman (2003; 7) belajar adalah “proses perubahan tingkah laku individu yang relative tetap sebagai hasil dari pengalaman”. Sedangkan menurut Sadiman, dkk (2009; 2) menjelaskan bahwa “Belajar suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif)”. Kemudian Slameto (2003; 2) menerengkan pula bahwa “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Lebih dipertegas lagi oleh Gagne dalam Muliyardi (2002; 39) “belajar merupakan proses yang memungkinkan manusia memodifikasi tingkah lakunya secara permanen, sedemikian sehingga modifikasi yang sama tidak akan terjadi lagi pada situasi yang baru”.
Dari pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar, bersifat permanen, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, dengan kata lain seseorang dikatakan belajar apabila pada dirinya terjadi perubahan tingkah laku, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan kearah yang lebih baik bila dibandingkan dengan sebelum ia menalami proses belajar. Jadi hasil belajar adalah adanya perubahan tingkah laku.
Dalam hubungnnya dengan pembelajaran matematika menurut Nikson dalam Mulyardi (2002; 3) mengemukakan bahwa : “Pembelajaran matematika adalah upaya membantu siswa untuk mengkontruksi konsep atau prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali”.
Namun pada dasarnya seseorang kadang tidak mengetahui model pembelajaran yang cocok digunakan olehnya ataupun digunakan untuk orang lain. Dalam pembelajaran mata kuliah ini, kami sebagai penulis mencoba menyusun makalah ini untuk mempelajari dan memahami model-model pembelajaran, khususnya Model Pembelajaran CIRC.
Menurut Arends (2007) semua model pembelajaran memiliki struktur tugas, struktur tujuan dan struktur reward. Begitupun halnya dengan model pembelajaran kooperatif. Struktur tugas melibatkan cara pelajaran diorganisasikan dan jenis pekerjaan yang diperintahkan kepada siswa. Struktur tujuan mengacu pada banyaknya interdependensi yang dibutuhkan dari siswa ketika mereka melaksanakan tugasnya sedangkan struktur reward tergantung dari struktur tujuan dari pembelajaran tersebut.
B.    Rumusan Masalah

1.    Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran CIRC matematika?
2.    Bagaimana hakikat pembelajaran CIRC pada bidang studi matematika?
3.    Bagaimana mengembangkan model pembelajaran matematika CIRC?

C.    Tujuan

1.    Mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mendeskripsikan definisi model pembelajaran matematika CIRC.
2.    Mahasiswa diharapkan mampu memahami hakekat pembelajaran CIRC pada bidang studi matematika.
3.    Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan model pembelajaran matematika CIRC.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi Model Pembelajaran CIRC
Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC pertama kali dikembangkan oleh Robert E. Slavin , Farnish , Stevans dan Madden. Alasan utama pengembangan metode ini karena kekhawatiran mereka terhadap pengajaran membaca, menulis dan seni berbahasa oleh guru masih dilakukan secara tradisional. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting (Suyatno, 2009:68).
CIRC merupakan sebuah program komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada kelas sekolah dasar pada tingkat yang lebih tinggi dan juga pada sekolah menengah (Slavin, 2009 : 16). CIRC merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif. Pendekatan pembelajaran kooperatif menekankan tujuan-tujuan kelompok dan tanggung jawab individual.
Dari beberapa penelitian, model pembelajaran kooperatif ini dapat memberikan pembelajaran yang lebih banyak daripada model-model pembelajaran konvensional. Hal ini dikarenakan pembelajaran kooperatif dibangun atas dua teori utama yaitu teori motivasi dan kognitif. Dari perspektif motivasional, struktur tujuan kooperatif menciptakan sebuah situasi di mana anggota kelompok dapat sukses apabila kelompok mereka juga sukses (Slavin, 2009 : 16). Teori kognitif sendiri menekankan pada pengaruh dari adanya kerjasama kelompok, apakah kelompok kerja siswa mencoba meraih tujuan kelompok atau tidak (Slavin, 2009 : 36).

Menurut Slavin (2006) terkait dengan tiga studi tentang program CIRC, menemukan efek positif terhadap kemampuan membaca siswa, termasuk di dalamnya peningkatan nilai dalam ujian membaca dan bahasa yang terstandarisasi. Dengan strategi pembelajaran CIRC ini diharapkan siswa akan dapat bekerja sama dengan kelompoknya mengingat strategi CIRC ini merupakan salah satu jenis pembelajaran kooperatif. Dalam strategi pembelajaran CIRC ini terdapat urutan penyajian yang harus diikuti yaitu partner reading, story structure, and related writing, words out loud, word meaning, story re-tell dan spelling.
Kooperatif CIRC merupakan model pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis, Steven& Slavin (Wijaya Jati,2004 : 35). Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC merupakan singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak seperti pelajaran matematika.
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu. Menurut Fogarty (1991), berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran terpadu dapat dikelompokkan menjadi:
1)    model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model connected (keterhubungan) dan model nested (terangkai);
2)     model antar bidang studi yang meliputi model sequenced (urutan), model shared (perpaduan), model webbed (jaring laba-laba), model theaded (bergalur) dan model integreted (terpadu);
3)    model dalam lintas siswa.
Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik siswa berinteraksi sosial dengan lingkungan.
Prinsip belajar terpadu ini sejalan dengan empat pilar pendidikan yang digariskan UNESCO dalam kegiatan pembelajaran. Empat pilar itu adalah ”belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam kebersamaan (Learning to live together), (Depdiknas, 2002).
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu.  Menurut Fogarty (1991), berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran terpadu dapat dikelompokkan menjadi:
1.    model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model connected (keterhubungan) dan model nested (terangkai);
2.    model antar bidang studi yang meliputi model sequenced (urutan), model shared (perpaduan), model webbed (jaring laba-laba), model theaded (bergalur) dan model integreted (terpadu);
3.    model dalam lintas siswa.
Model pembelajaran ini, dibagi menjadi beberapa fase :
a.    Fase pertama, yaitu orientasi. Pada fase ini, guru melakukan apersepsi dan pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan diberikan. Selain itu juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada siswa.
b.    Fase kedua, yaitu organisasi. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan akademik. Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada siswa. Selain itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung.
c.    Fase ketiga yaitu pengenalan konsep. Dengan cara mengenalkan tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, film, kliping, poster atau media lainnya.
d.    Fase keempat, yaitu fase publikasi. Siswa mengkomunikasikan hasil temuan-temuannya, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas baik dalam kelompok maupun di depan kelas.
e.    Fase kelima, yaitu fase penguatan dan refleksi. Pada fase ini guru memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasan-penjelasan ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan seharihari. Selanjutnya siswa pun diberi kesempatan untuk
merefleksikan dan mengevaluasi hasil pembelajarannya.
Menurut Slavin (1995), tujuan utama CIRC khususnya dalam menggunakan tim kooperatif ialah membantu siswa belajar membaca pemahaman yang luas untuk kelas-kelas tinggi SD. Siswa bekerja dalam tim belajar kooperatif mengidentifikasi lima hal yang penting dari cerita naratif, yaitu perwatakan, setting, masalah, usaha untuk memecahkan masalah, akhir dari pemecahan masalah. Hasil penelitian tentang pembelajaran struktur cerita mengidentifikasikan bahwa CIRC bisa meningkatkan hasil belajar siswa yang rendah.
Disamping itu, berdasarkan dari hasil penelitian, siswa juga bisa membuat dan menjelaskan prediksi tentang bagaimana masalah bisa diselesaikan dan meringkaskan unsur-unsur utama suatu cerita kepada unsur cerita lainnya. Kedua kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa. Pilihan strategi pembelajaran CIRC diambil berdasarkan temuan dari beberapa penelitian dan hasil kajian-kajian ilmiah yang membuktikan dan menyatakan bahwa srategi pembelajaran CIRC ini adalah sebuah strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa.
Dari paparan tersebut kita mampu melihat bahwa model ini digunakan dalam bidang studi bahasa dan bukan matematika, ini menjukan salah satu bahwa model pembelajaran ini kurang cocok digunakan dalam bidang studi yang berkaitan dengan hitung-menghitung.
B.    Komponen-komponen Model Pembelajaran CIRC
Model pembelajaran CIRC memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut sebagai berikut :
a.    Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa;
b.    Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu;
c.    Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya;
d.    Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya;
e.    Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas;
f.    Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok;
g.    Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa;
h.    Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.


C.    Kegiatan Pokok Model Pembelajaran CIRC
Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain.
Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan para siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya. Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil yang heterogen. Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Karena pada pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut. Slavin ((1995:98) menyatakan bahwa “in addition to solving the problems of management and motivation in individualized programmed instruction, CIRC was created to take advantage of the considerable socialization potential of cooperative learning”.
Kegiatan pokok dalam CIRC untuk memecahkan soal cerita meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yakni:
1.    Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca.
2.    Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu.
3.    Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita
4.    Menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya
5.    Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi).
Adapun unsur utama dari CIRC ini yaitu :
1.    Kelompok membaca. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok membaca yang terdiri dari dua atau tiga orang berdasarkan tingkat kemampuan membaca yang ditentukan oleh guru.
2.    Tim. Para siswa dibagi ke dalam pasangan dalam kelompok membaca mereka, dan selanjutnya pasangan –pasangan tersebut dibagi ke dalam tim yang terdiri dari pasangan-pasangan dari dua kelompok membaca.
3.    Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan cerita. Dalam kelompok siswa, guru menentukan tujuan membaca, memperkenalkan kosa kata baru, mengulang kembali kosakata lama, mendiskusikan ceritanya setelah para siswa selesai membaca, dan lain sebagainya
Dengan mengadopsi model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC untuk melatih siswa meningkatkan keterampilannya dalam menyelesaikan soal cerita, maka langkah yang ditempuh seorang guru mata pelajaran adalah sebagai berikut.
1.    Guru menerangkan suatu pokok bahasan tertentu kepada para siswanya (misalnya dengan metode ekspositori).
2.    Guru memberikan latihan soal termasuk cara menyelesaikan soal cerita.
3.    Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal cerita melalui penerapan Cooperative Learning tipe CIRC.
4.    Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa (Learning Society) yang heterogen. Setiap kelompok terdiri atas 4 atau 5 siswa.
5.    Guru mempersiapkan 1 atau 2 soal cerita dan membagikannya kepada setiap siswa dalam kelompok yang sudah terbentuk.
6.    Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi
serangkaian kegiatan spesifik sebagai berikut:
1)    Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca soal cerita tersebut.
2)    Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita,termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu.
3)    Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita.
4)    Menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya).
5)    Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi).
6)    Menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru.
7)    Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian kegiatan pola CIRC (Team Study). Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok
8)    Ketua kelompok, melaporkan keberhasilan kelompoknya atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami anggota kelompoknya. Jika diperlukan, guru dapat memberikan bantuan kepada kelompok secara proporsional.
9)    Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal cerita yang diberikan guru.
10)    Guru meminta kepada perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di depan kelas.
11)    Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator jika diperlukan.
12)    Guru memberikan tugas/PR soal cerita secara individual kepada para siswa tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari
13)    Guru bisa membubarkan kelompok yang dibentuk dan para siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing.
14)    Menjelang akhir waktu pembelajaran, guru dapat mengulang secara klasikal tentang strategi pemecahan soal cerita.
15)    Guru dapat memberikan tes formatif, sesuai dengan TPK/kompetensi yang ditentukan.

D.    Penerapan Model Pembelajaran  CIRC
Sebenarnya dalam bahan materi yang dipahami dari para ahli, model pembelajaran CIRC ini tidak banyak digunakan dalam bidang matematika atau mata pelajaran yang berkaitan dengan dunia hitung-menghitung. Model pembelajaran CIRC ini lebih sering digunakan dalam mata pelajaran bahasa. Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan:
1.    Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan
2.    Guru memberikan latihan soal
3.    Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC
4.    Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen
5.    Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok
6.    Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik
7.    Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru mengawasi kerja kelompok
8.    Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya
9.    Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan
10.    Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya
11.    Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator
12.    Guru memberikan tugas/PR secara individual
13.    Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya
14.    Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal pemecahan masalah
15.    Guru memberikan kuis
E.    Langkah-langkah Pembelajaran CIRC
Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi
bagian-bagian yang penting. Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik untuk mencapai tujuan yang di harapkan dalam pembelajaran. Adapun langkah-langkahnya adalah:
a. Membentuk kelompok yang terdiri dari empat orang secara heterogen .
b. Guru memberikan wacana sesuai topik pembelajaran.
c. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok serta memberikan tanggapan terhadap wacana/ kliping dan ditulis pada lembar kertas.
d. Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
e. Guru membuat kesimpulan
f. Pembelajaran
Adapun langkah-langkah menurut Suprijono (2009) dalam pembelajaran model CIRC ini adalah :
1.    Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen
2.    Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
3.    Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
4.    Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
5.    Guru membuat kesimpulan bersama
6.    Penutup
Cara untuk menentukan anggota kelompoknya adalah sebagai berikut:
a.    Menentukan peringkat siswa dengan cara mencari informasi tentang skor rata-rata nilai siswa pada tes sebelumnya atau nilai raport. Kemudian diurutkan dengan cara menyusun peringkat dari yang berkemampuan akademik tinggi sampai terendah.
b.    Menentukan jumlah kelompok. Jumlah kelompok ditentukan dengan memperhatikan banyak anggota setiap kelompok dan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut.
c.    Penyusunan anggota kelompok. Pengelompokkan ditentukan atas dasar susunan peringkat siswa yang telah dibuat. Setiap kelompok diusahakan beranggotakan siswa-siswa yang mempunyai kemampuan beragam, sehingga mempunyai kemampuan rata-rata yang seimbang.
d.    Selanjutnya kegiatan pokok dalam CIRC dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah juga meliputi kegiatan lainya, yaitu: (1). Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal, (2). Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variabel, (3). Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah, (4). Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dan (5). Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian.

F.    Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran CIRC
Kelebihan Model Pembelajaran CIRC
Seperti model-model pembelajaran yang lain, model pembelajaran CIRC pun sama yaitu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya.
Adapun kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC adalah sebagai berikut:
1.    CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah
2.    Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang
3.    Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok
4.    Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya
5.    Membantu siswa yang lemah
6.    Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah
7.    Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak;
8.    seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama;
9.    membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam
10.    Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat siswa dan kebutuhan anak;
11.    Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama;
12.    Pembelajaran terpadu dapat menumbuh-kembangkan keterampilan berpikir anak;
13.    Pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis (bermanfaat) sesuai dengan permasalahan yang sering ditemuai dalam lingkungan anak;
14.    Pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa kearah belajar yang dinamis, optimal dan tepat guna;
15.    Menumbuhkembangkan interaksi sosial anak seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain;
16.    Membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam mengajar (Saifulloh, 2003).
Kekurangan Model Pembelajaran CIRC
Kerurangan dari model pembelajaran CIRC tersebut antara lain:
Dalam model pembelajaran ini hanya dapat dipakai untuk mata pelajaran yang menggunakan bahasa, sehingga model ini tidak dapat dipakai untuk mata pelajaran seperti matematika dan mata pelajaran lain yang menggunakan prinsip menghitung.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Model pembelajaran ini sangat bagus dipakai karena dengan menggunakan model ini siswa dapat memahami secara langsung peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan dengan materi yang dijelaskan. Namun dalam penggunaan bidang studi yang berkaitan dengan perhitungan kurang memuaskan.
B.    Saran
        Dari makalah ini tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan yang perlu dikoreksi. Untuk itu siapapun diharapkan untuk memberikan kritik dan sarannya mengenai penulisan makalah ini.




DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
E.Slavin, Robert. Cooperatif Learning ( Teori, Riset, dan Praktik ). Bandung: Nusa Media.2005
Suyatno. Memjelajahi Pembelajaran Inovatif . Jatim: Masmedia Buana Pustaka. 2009
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi bagi Pendidikan Dalam implementasi Pembelajaran yang Efektif. Jakarta: Kencana, 2009).
http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/model-pembelajaran-circ-cooperative.html#

Selasa, 29 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT



BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan secara berkesinambungan membangun gagasan-gagasan dan emosi (pikiran dan perasaan). Siswa yang datang ke sekolah diisi dengan pengalaman-pengalaman yang disimpan dalam ingatan mereka, termasuk juga pola-pola kompleks dari prilaku untuk mendewasakan mereka.
Model pembelajaran adalah produk dari para guru yang digunakan untuk pembelajaran siswa.  Jangan pernah lakukan pembelajaran hanya cukup dengan seni dan penyampaian kesimpulan pengetahuan saja dan menggunakan model-model pembelajaran menurut terkaan-terkaan menurut pikiran kita, tetapi guru harus membagi pasangan diantara siswa kemudian memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan soal atau untuk merangkum materi agar siswa aktif dan bisa saling tukar fikiran dengan pasangannya.

Minggu, 20 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN CONCEPT SENTENCE


A.    Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Negara yang maju adalah Negara yang pendidikannya maju pula, dan demikian sebaliknya. Jadi pendidikan menopang kemajuan bangsa itu. Itulah sebabnya mutu pendidikan yang rendah menjadi keprihatinan bangsa secara keseuruhan, bukan hanya kalangan tertentu yang terlibat dalam proses pendidikan.

Kamis, 17 November 2016

Metode Pembelajaran Think Pair Share



Pendahuluan

Think pair share merupakan bagian dari kumpulan strategi guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif. Dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggungjawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.

Minggu, 13 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN VAK ( VISIUAL AUDITORY AND KINESTHETIC )



BAB I
PENDAHULUAN
Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu dasar peningkatan pendidikan secara keseluruhan. Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi bagian terpadu dari upaya peningkatan kualitas manusia, baik aspek kemampuan, kepribadian, maupun tanggung jawab sebagai warga masyarakat. Mutu pendidikan sangat tergantung kepada kualitas guru dan pembelajarannya.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang, karena hasil dari proses pendidikan akan dirasakan baik untuk saat ini maupun untuk waktu yang akan datang. Di era globalisasi seperti sekarang ini, disadari atau tidak pengaruhnya semakin terasa dengan semakain banyaknya saluran informasi dalam berbagai bentuk media. Media telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. Di negara maju, media telah mempengaruhi kehidupan hampir sepanjang waktu.

Kamis, 10 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION



BAB I
PENDAHULUAN
Sesungguhnya belajar adalah ciri khas manusia shingga manusia dapat dibedakan dengan binatang. Belajar dilakukan manusia seumur hidupnya, kapan saja, dan dimana saja, baik di sekolah, kelas, jalanan, dan dalam waktu yang tidak ditentukan sebelumnya. Sekalipun demikian, belajar dilakukan manusia senantiasa oleh iktikad dan maksud tertentu.
Belajar terjadi ketika ada interaksi antara individu dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik adalah buku, alat peraga, dan alam sekitar. Adapun lingkungan belajar adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa untuk belajar. ( Drs. Hamdani, M.A. 2011 : 17 )

Senin, 07 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN IMPROVE



BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang
Salah satu tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun kenyataan dilapangan masih banyak siswa masih mengalami banyak kesulitan dalam belajar matematika. Kesulitan siswa untuk menemukan penyelesaian atau pemecahan masalah dalam belajar matematika karena kurangnya kemampuan untuk menarik kesimpulan suatu pernyataan dan melihat hubungan implikasi, Siswa tidak dapat melihat hubungan antar ide-ide dan siswa sulit memberikan alasan logis mengapa sebuah jawaban dan atau strategi pemecahan masalah adalah benar dan masuk akal (kemampuan membuat argumentasi logis). Hal tersebut mengindikasikan bahwa penalaran siswa masih rendah dan perlu untuk ditingkatkan.

Selasa, 01 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN DEBAT (DEBATE)




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Keterampilan berbahasa ada empat yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan tersebut saling berhubungan sehingga menjadi catur tunggal. Berbicara merupakan proses berpikir dan bernalar agar pembicaraan seseorang dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh orang lain atau penyimak. Keterampilan berbicara mempunyai kaitan erat keterampilan mrenyimak. Keduanya merupakan satu kesatuan yang padu. Seseorang dapat berbicara dalam arti menanggapi tuturan dari orang lain tentu melalui menyimak dan sebalikanya seseorang dapat melakukan kegiatan menyimak apabila ada orang yang berbicara.

Minggu, 30 Oktober 2016

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KUMON


A. Latar Belakang Masalah
Model adalah suatu objek atau konsep yang digunakan untuk mempresentasikan suatu hal. Sedangkan pembelajaran merupakan pengeluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia.
Dalam pembelajaran matematika sering kita temui adanya siswa yang kesulitan dalam menerima materi yang diajarkan. Kesulitan ini dapat disebabkan antara lain faktor internal yaitu : motivasi, intelegensi, minat dan keadaan psikologis siswa. Sering kita temui siswa yang kurang tertarik mengikuti pelajaran matematika bahkan ada pula siswa yang takut dan benci pada pelajaran matematika. Mungkin hal ini merupakan gejala yang disebabkan oleh materi matematika yang dipelajari dan cara penyajiannya kurang sesuai dengan kematangan siswa, sehingga kegiatan belajar-mengajar tidak bermakna dan hasilnya pun kurang memuaskan.

Selasa, 25 Oktober 2016

METODE PEMBELAJARAN METODE DEMONSTRASI


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, seorang guru harus mengetahui dan memahami berbagai macam sifat dan karakter peserta didik untuk mempermudah dalam proses kegiatan Belajar Mengajar ( PKBM ) baik pengunaan metode, media maupun alat peraga.
Seorang pendidik juga harus menyadari bahwa pendidikan sebagai asaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar secara aktif dan kreatif, cerdas serta menanamkan pada diri sifat beriman dan bertaqwa, sebagaimana tertuang dalam fungsi dari tujuan pendidikan nasional bahwa “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kamis, 20 Oktober 2016

MODEL PEMBELAJARAN SUPERITEM



BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan kebutuhan primer pada saat ini, apalagi sebagian besar masyarakat sudah menyadari pentingnya pendidikan dalam menata masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu setiap negara senantiasa berusaha memajukan bidang pendidikan, disamping bidang yang lain dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas serta berusaha mengejar kemajuan negara lain.

Sabtu, 15 Oktober 2016

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING



PENDAHULUAN

Pendekatan Problem Posing adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran dimana siswa diminta untuk merumuskan, membentuk dan mengajukan pertanyaan atau soal dari situasi yang disediakan. Dengan diterapkannya pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing dalam pembelajaran matematika, diharapkan dapat menjadikan kemampuan penalaran matematika siswa lebih baik dari biasanya.
Problem Posing merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk berfikir kritis sekaligus dialogis, kreatif dan interaktif yang ditungkan dalam bentuk pertanyaan (B. Suryosubroto, 2009 : 203).
Pendekatan Problem Posing diharapkan dapat memancing siswa untuk  menemukan pengetahuan yang bukan diakibatkan dari ketidaksengajaan melainkan melalui upaya mereka untuk mencari hubungan-hubungan dalam informasi yang dipelajarinya. Sebagian ahli menyatakan bahwa Problem Posing sebagai pengajuan masalah, merupakan suatu bentuk pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan pada perumusan soal dan menyelesaikannya berdasarkan situasi yang diberikan kepada siswa. Karena soal dan penyelesaiannya dirancang sendiri oleh siswa, maka dimungkinkan bahwa Problem Posing dapat mengembangkan kemampuan penalaran matematis atau menggunakan pola pikir matematis.
Salah satu strategi yang efektif dalam menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan tentunya dengan melibatkan siswa dalam kegiatan diskusi di kelas. Pembelajaran dengan suasana belajar aktif dan bermakna. Salah satu pendekatan pembelajaran yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu “Problem Posing dalam Pembelajaran Matematika”.

Rabu, 05 Oktober 2016

MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS)



BAB I
PENDAHULUAN
Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu aktivitas tertentu. Dalam pengertian lain, model diartikan sebagai barang tiruan, metafor, atau kiasan yang dirumuskan. Pouwer menerangkan tentang model dengan anggapan seperti kiasan yang dirumuskan secara eksplisit yang mengandung sejumlah unsur yang saling tergantung. Sebagai metafora model tidak pernah dipandang sebagai bagian data yang diwakili. Model menjelaskan fenomena dalam bentuk yang tidak seperti biasanya. Setiap model diperlukan untuk menjelaskan sesuatu yang lebih atau berbeda dari data. Syarat ini dapat dipenuhi dengan menyajikan data dalam bentuk: ringkasan (tipe, diagram), konfigurasi ( structure ), korelasi (pola), idealisasi, dan kombinasi dari keempatnya. Jadi model merupakan kiasan yang padat yang bermanfaat bagi pembanding hubungan antara data terpilih dengan hubungan antara unsur terpilih dari suatu konstruksi logis.
Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya.

Sabtu, 24 September 2016

MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Belajar merupakan aktivitas manusia yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sejak lahir sampai akhir hayat manusia tidak pernah lepas dari proses belajar. Dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah  manusia selalu dituntut untuk terus belajar . Sekolah adalah suatu wadah yang paling erat hubungannya dengan kegiatan pembelajaran. Apabila proses dan hasilnya baik, maka dapat dikatakan bahwa kualitas pembelajaran juga baik. Keberhasilan suatu pembelajaran dapat dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan guru. Jika model pembelajarannya menarik dan terpusat pada siswa (student-centered learning) maka motivasi dan perhatian siswa akan meningkat  dan selanjutnya kualitas pembelajaran juga dapat meningkat.
Minat belajar adalah suatu hal yang penting untuk diperhatikan dalam tercapainya kualitas pembelajaran maupun hasil belajar siswa. Usaha peningkatan minat belajar siswa terkait erat dengan pelaksanaan pembelajaran. Metode merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran yang berada di bawah control guru, artinya bahwa guru mempunyai wewenang penuh untuk memilih metode yang tepat agar tercapai tujuan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran karena metode yang kurang tepat akan menjadikan pembelajaran seperti sebuah pemaksaan, monoton dan materi tidak tersampaikan dengan baik.

Jumat, 16 September 2016

MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI




BAB I
PENDAHULUAN

    Latar Belakang
Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.

Minggu, 04 September 2016

Pembelajaran Bersiklus (Learning Cycle)



A.    Pendahuluan
Pembaharuan pendidikan atau inovasi pendidikan adalah konsep yang sering didengar dalam dunia pendidikan Indonesia. Hal ini pula yang sejak lama sudah didambakan oleh masyarakat. Usaha ke arah pembaharuan pendidikan dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dengan berbagai cara, antara lain melalui pengubahan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman (Fajaroh, 2003). Perubahan kurikulum telah terjadi beberapa kali, dan perubahan paling akhir adalah sesuai Peraturan Mendiknas ditetapkan kurikulum operasional Tingkat Satuan Pendidikan atau sekarang disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Pendidikan dikatakan bermutu apabila proses pembelajaran berlangsung secara efektif, peserta didik (siswa) memperoleh pengalaman yang bermakna bagi dirinya, dan produk pendidikan merupakan individu-individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Selain itu peserta didik berbeda dalam berbagai hal, terutama intelegensinya. Intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Banyak siswa yang prestasi belajarnya kurang bukan disebabkan oleh kemampuan intelegensi yang belum optimal. Namun hal ini lebih disebabkan kemampuan berfikir untuk memanfaatkan apa yang mereka ketahui atau disebut juga dengan kemampuan metakognisi, kurang berkembang.

Kamis, 01 September 2016

MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI)



PENDAHULUAN

Dalam kesempatan ini saya akan membuat makalah tentang model pembelajaran group investigation, saya buat guna untuk memenuhi tugas mandiri mata kuliah model-model pembelajaran. Secara garis besar model pembelajaran ini bersifat kelompok. Ide model pembelajaran geroup investigation bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep belajar, menulis sebuah buku Democracy and Education (Arends, 1998). Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata.
Dalam model pembelajaran ini lebih ditekankan pada prosesnya, karena dalam prosesnya tersebut ada unsur-unsur penting dalam penilaian sebagai uji coba peerapan model pembelajaran group investigation. Model investigasi kelompok merupakan model pembelajaran yang melatih para siswa berpartisipasi dalam pengembangan sistem sosial dan melalui pengalaman, secara bertahap belajar bagaimana menerapkan metode ilmiah untuk meningkatkan kualitas masyarakat. model ini merupakan bentuk pembelajaran yang mengkombinasikan dinamika proses demokrasi dengan proses inquiry akademik. melalui negosiasi siswa-siswa belajar pengetahuan akademik dan mereka terlibat dalam pemecahan masalah sosial. dengan demikian kelas harus menjadi sebuah miniatur demokrasi yang menghadapi masalah-masalah dan melalui pemecahan masalah, memperoleh pengetahuan dan menjadi sebuah kelompok sosial yang lebih efektif.

Rabu, 31 Agustus 2016

MODEL PEMBELAJARAN COURSE REVIEW HORAY



BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan bukan hanya bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan. Namun, pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman, sikap dan keterampilan serta perkembangan diri seseorang. Saat ini, pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi setiap orang, apalagi sebagian besar masyarakat sudah menyadari pentingnya pendidikan dalam menata masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, setiap negara senantiasa berusaha memajukan bidang pendidikan, disamping bidang yang lain dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas serta berusaha mengejar kemajuan negara lain. Satu dari sekian banyak masalah di era globalisasi yang dihadapi Indonesia saat ini, adalah masalah dibidang pendidikan. Masalah yang belum teratasi pada saat ini terutama masalah yang berhubungan dengan kualitas hasil pendidikan. Seorang guru penting untuk menciptakan paradigma baru untuk menghasilkan praktik terbaik dalam proses pembelajaran. Guru harus selalu mengembangkan diri, baik yang berkaitan dengan kompetensi bidang studi maupun pedagogic, termasuk penggunaan internet dalam mencari informasi terkini. Ronald Brandt (1993) menyatakan bahwa hampir semua usaha reformasi dalam pendidikan, seperti pembaharuan kurikulum dan penerapan metode pembelajaran baru akhirnya tergantung pada guru. Tanpa guru yang mampu menguasai bahan ajar dan strategi belajar mengajar, maka segala upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan mencapai hasil optimal. Hal ini, berarti seorang guru tidak hanya diharapkan mampu menguasai bidang ilmu yang diajarkan, tetapi juga menguasai strategi belajar mengajar. Dizaman yang modern ini, seorang guru haruslah pandai menciptakan situasi kelas yang kreatif dan tidak membosankan. Disamping itu, gurupun harus selalu bisa mendorong siswanya agar selalu bersemangat dalam belajar. Salah satu metode yang tepat untuk membuat suasana kelas kreatif dan semangat adalah dengan menerapkan model pembelajaran course review horay, yang didalamnya banyak sekali ditemukan kegembiraan dalam praktik pelaksanaannya. Berawal dari sinilah penulis membuat makalah ini, dengan maksud ingin jauh lebih bisa mengenalkan model pembelajaran course review horay secara lebih dekat dan menyeluruh.

Senin, 29 Agustus 2016

Model Pembelajaran SQ4R



BAB I
PENDAHULUAN
Belajar adalah proses yang terjadi dalam otak manusia, saraf, dan sel-sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lain-lain, lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya, orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.

Sabtu, 27 Agustus 2016

MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE (TTW)



BAB I
PENDAHULUAN

Pada dasarnya kemajuan pendidikan salah satunya tergantung dari apa yang dilakukan guru dalam pembelajaran di kelas. Guru diharapkan mampu lebih mengembangkan profesionalisme dalam membelajarkan siswa dalam fungsinya sebagai fasilitator pembelajaran. Terdapat banyak teori pembelajaran yang dikembangkan para ahli dalam upaya memberikan masukan serta pengetahuan bagi para guru yang bertujuan untuk menjadikan siswa didikannya unggul dan menjadi jaminan bagi masa depan siswa itu sendiri baik yang akan melanjutkan pendidikannya atau yang akan terjun ke masyarakat.
Proses pembelajaran di kelas adalah salah satu tahap yang sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran dapat dilakukan terhadap berbagai komponen seperti: siswa, guru, indikator pembelajaran, isi pelajaran, metode, media, dan evaluasi. Guru sebagai salah satu mediator dan komponen pengajaran mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan pembelajaran dan sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan, karena guru terlibat langsung didalamnya. Dari berbagai penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa matapelajaran matematika dirasa sebagai mata pelajaran paling sulit di sekolah sehingga kurang disenangi siswa. Ini adalah paradigma yang sudah tidak asing lagi bagi para guru matematika yang harus dipecahkan para guru.
Oleh karena itu, guru perlu mencoba berbagai macam model pembelajaran agar paradigma di atas tidak lagi melekat dalam diri siswa. Model pembelajaran Think, Talk, Write (TTW) merupakan salah satu model pembelajaran yang patut dipraktekan dalam proses belajar matematika. Dan dengan model pembelajaran ini, diharapkan pra siswa dapat menyukai matapelajaran matematika.

Selasa, 23 Agustus 2016

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSSING




BAB I
PENDAHULUAN

Berbagai permasalahan dihadapi oleh guru sekolah dasar dalam pembelajaran yaitu pada mata pelajaran matematika, salah satunya adalah kesulitan siswa dalam belajar matematika yang benar. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain kesulitan dalam pemahaman konsep, pemecahan masalah (mathematical problem solving), penalaran matematika (mathematical reasoning), koneksi matematika (mathematical conection), komunikasi matematika (mathematical communication), dan lain-lain. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak yang peduli kepada pembelajaran matematika.
Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam melaksanakan pendidikan di sekolah. Sebagai upaya meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran matematika pada masa sekarang, telah banyak dikembangkan metode-metode yang bersifat behavioristik (memanusiakan manusia), seperti: student active learning, quantum learning, quantum teaching, dan accelerated learning. Seluruh metode tersebut digunakan dalam rangka revolusi belajar yang melibatkan guru dan siswa sebagai satu kesatuan yang mempunyai hubungan timbal balik. Peran guru sebagai pengajar/ fasilitator, sedangkan siswa merupakan individu yang belajar.
Namun semua hal tersebut didalam penerapannya banyak sekali mengalami kendala, mulai dari sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah tersebut, sumber daya manusia yang kurang menunjang, dan masih banyak lagi permasalahan-permasahan yang timbul.

Jumat, 19 Agustus 2016

MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE





BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Sugihartono, 74: 2007). Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses, yakni proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Dari segi guru proses belajar tampak sebagai perilaku belajar tentang suatu hal. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar (Dimyati, 2006: 17).
Menurut Gulo dalam Sugihartono, dkk (80: 2007), mendefinisikan pembelajaran sebagai usaha untuk menciptakan system lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar. Erman Suherman, dkk (2003: 8) menyatakan bahwa pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi bantuan agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Pengertian pembelajaran menurut Sugihartono, dkk (2007: 81) merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi atau menciptakan sistem lingkungan dengan cara berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien serta dengan hasil optimal.

Rabu, 17 Agustus 2016

MODEL PEMBELAJARAN ELABORASI




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dunia pendidikan sekarang dituntut untuk senantiasa melakukan inovasi dalam pembelajaran, dalam berbagai aspek. mulai dari visi, misi, tujuan, program, layanan, metode, teknologi, proses, sampai evaluasi. Bagi seorang Pendidik, pemilihan model pembelajaran hendaknya dilakukan secara cermat, agar pilihan itu tepat atau relevan dengan berbagai aspek pembelajaran yang lain, efisien dan menarik. Model Elaborasi pengajaran pada awalnya dikemukakan oleh Reigeluth dan Stein (1983). Teori Elaborasi yang memiliki komponen yaitu: urutan elaborative urutan utama pembelajaran, rangkuman (summarizer), sintesis (syntherizer), analogi, pengaktif strategi kognitif (cognitive strategy activator) dan kontrol belajar memberikan kemungkinan yang sangat luas untuk mewujudkan kompetensi tersebut .

Senin, 15 Agustus 2016

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN ARENDS



BAB I
PENDAHULUAN
Selama ini, Metode ceramah sering digunakan dalam setiap pembelajaran termasuk matematika. Dan ternyata belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan mereka seperti kemampuan untuk menyampaikan ide atau gagasan, kemampuan menyelesaikan masalah dan kemampuan-kemampuan yang lainnya.

Kamis, 11 Agustus 2016

MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING


Model pembelajaran sangatlah penting dalam mencapai hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Oleh karena itu, pada zaman sekarang banyak bermunculan berbagai macam model pembelajaran. Namun sebelum banyak membahas model pembelajaran penulis mengajak kepada pembaca untuk memahami beberapa istilah atau pengertian yang sama-sama berpengaruh terhadap hasil belajar siswa atau sebagai bahan pertimbangan ketika hendak menggunakan salah satu model pembelajaran.

Senin, 13 Juni 2016

MODEL PEMBELAJARAN SUPERITEM PADA PELAJARAN MATEMATIKA




A.    Pengertian Model Pembelajaran Superitem
Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Proses pembelajaran merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam pembelajaran yang satu sama lain saling berhubungan dalam sebuah rangkaian untuk mencapai tujuan. (Usman, 2000: 4)
Yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian. Metode mengajar yang digunakan guru hampir tidak ada yang sia-sia, karena metode tersebut mendatangkan hasil dalam waktu dekat atau dalam waktu yang relative lama. (Sudjana, 1989: 30)

Model Pembelajaran SAVI (Somatik, Auditori, Visual dan Intektual)



Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003 : 2). Perubahan itu bersifat bersifat relatif konstan dan berbekas. Dalam kaitan ini, proses belajar dan perubahan merupakan bukti hasil yang diproses. Belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga penyusunan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain, dan lain-lain (Hamalik, 2002 : 45). Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.

Sabtu, 11 Juni 2016

MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF



BAB I
PENDAHULUAN

Matematika sebagai ilmu dasar bagi pengembangan disiplin ilmu yang lain memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Oleh karena itu, mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang potensial untuk diajarkan di seluruh jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar, untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, kritis dan sistematis serta kemampuan bekerja sama sehingga tercipta kualitas sumber daya manusia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Kamis, 09 Juni 2016

MODEL PEMBELAJARAN COMPLETE SENTENCE



BAB I
PENDAHULUAN
Ketika guru melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas, pada dasarnya guru tersebut sedang mempraktekkan model pembelajaran. Dalam proses kegiatan pembelajaran seorang guru sebelumnya pasti akan mempersiapkan lebih dahulu apa yang akan disampaikan pada siswa dengan menyusun persiapan mengajar atau rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran memuat topik yang dibahas, tujuan pembelajaran, alat-alat yang perlu digunakan, langkah-langkah pembelajaran atau skenario pembelajaran, dan penilaian yang akan dilakukan.

Sabtu, 04 Juni 2016

MODEL PEMBELAJARAN SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)

BAB I
PENDAHULUAN

Tujuan pendidikan nasional pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pencapaian tujuan pembelajaran nasional dituangkan dalam kurikulum pendidikan nasional yang berbunyi : “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri, menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. “Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 (dalam Arifin 2007 : 98)”.

Minggu, 17 April 2016

MODEL PEMBELAJARAN SCREMBLE


BAB I
PENDAHULUAN

Model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan perilaku peserta didik dan sangat erat kaitannya dengan gaya belajar peserta didik (learningstyle) dan gaya mengajar guru (teaching style) atau style learning and teaching (Hanafiah danSuhana,2009:41).
Model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun tutorial dan sebagai kerangka konseptual kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar (Suprijono 2010:46). Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru didalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran didalam kelas. Model pembelajaran adalah suatu upaya atau usaha membelajarkan peserta didik agar suasana dan kegiatan belajar dapat berlangsung dengan baik dan tidak membosankan.

Jumat, 15 April 2016

MODEL PEMBELAJARAN K.U.A.S.A.I



BAB I
PENDAHULUAN
    Pendidikan merupakan kebutuhan primer pada saat ini, apalagi sebagian besar masyarakat sudah menyadari pentingnya pendidikan dalam menata masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu setiap negara senantiasa berusaha memajukan bidang pendi-dikan, disamping bidang yang lain dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas serta berusaha mengejar kemajuan negara lain.

Kamis, 14 April 2016

MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam meningkatkan taraf  hidup  lebih baik dan berbudaya dalam kehidupannya. Dalam dunia pendidikan guru sebagai salah satu ujung tombak dalam keberhasilan suatu pendidikan. Untuk itu perlu adanya penigkatan kualitas guru dalam membawakan materi ajar. Baik berupa cara menyampaikan ataupun materi yang akan di sampaiakan. Untuk itu saya membuat makalah ini berharap bias digunakan oleh guru-guru untuk meningkatkan dirinya dalam menyampaikan materi sehingga tidak terjadi kebosanan dalam mengajar

Rabu, 13 April 2016

MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY



BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha yang sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Suatu komunikasi sangat diperlukan dalam pembelajaran matematika karena matematika bukan sekedar alat bantu untuk menemukan pola, menyelesaikan masalah atau mengambil kesimpulan, tetapi matematika juga merupakan alat untuk megkomunikasikan berbagai ide atau gagasan. Selain itu matematika juga merupakan aktivitas sosial, wahana interaksi antar siswa, dan sebagai alat komunikasi antara guru dengan siswa.
Mentransfer konsep melalui informasi atau ceramah belum tentu menghasilkan konsep yang jelas secara keseluruhan, terkadang justru bisa menimbulkan salah konsep. Oleh Karena itulah, diperlukan sebuah metode yang bisa meningkatkan pemahaman siswa dalam bidang Matematika dan menimbulkan suatu komunikasi matematika.
Salah satu upaya untuk membangun komunikasi matematika siswa adalah melalui penerapan model pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi satu sama lain  dan lebih aktif adalah odel pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran kooperatif ini siswa dituntut untuk aktif mengkomunikasikan gagasan matematis kepada teman sekelompok maupun kepada guru. Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe. Salah satu tipe model pembelajarn kooperatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah tipe Two Stay Two Stray.