Selasa, 13 Juni 2017

METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRATION




PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu, sedangkan teknik adalah cara yang digunakan, yang bersifat implementatif. Dalam proses belajar yang efektif memerlukan pemahaman pengetahuan siswa dan kebutuhan untuk belajar sehingga menarik serta mendukung mereka untuk belajar dengan baik.

 Para siswa belajar melalui pengalaman yang difasilitasi oleh guru. Sehingga siswa dapat memahaminya, agar mereka mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah, dan mereka menjadi percaya diri. Peningkatan pendidikan untuk semua siswa memerlukan pembelajaran yang efektif di semua kelas. Guru harus mengetahui dan memahami materi yang akan disampaikan ketika sedang mengajar dan bisa memberi gambaran atau ilustrasi pada pengetahuan dengan fleksibel saat mengajar. Mereka perlu memahami dan merasa terikat dengan para siswa mereka. Pembelajaran yang efektif memerlukan cerminan keteladanan dan usaha yang berkesinambungan untuk mencari peningkatan. Para guru harus mempunyai sumber daya dan peluang besar dan sering untuk meningkatkan serta menyegarkan pengetahuan mereka.(Guru Desa, 2011)
Dalam proses pembelajaran ada banyak macam metode pembelajaran yang dapat diterapkan, salah satunya adalah metode pembelajaran demonstration. Jenis metode ini masih sama seperti metode ekspositori, dimana metode ini berpusatkan pada guru, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa siswa juga sangat berperan dalam metode pembelajaran tersebut.
Menurut Ruseffendi, (1990:34) metode pembelajaran demonstrasi merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika.
Berdasarkan pemikiran tersebut penyusun ingin menerapkan metode pembelajaran demonstrasi dalam mata pelajaran matematika pada materi Bangun Ruang.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran demonstrasi?
2.    Apakah metode demonstrasi dapat diterapkan pada materi bangun ruang?
3.    Apa keunggulan dan kelemahan metode pembelajaran demonstrasi?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian metode pembelajaran demonstrasi.
2.      Untuk mengetahui apakah metode demonstrasi dapat diterapkan pada materi bangun ruang.
3.      Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan metode pembelajaran demonstrasi.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Metode Pembelajaran Demonstration
Metode mengajar adalah cara mengajar atau cara menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk setiap pelajaran atau bidang studi. Metode mengajar ini bisa diterapkan untuk setiap mata pelajaran. Ada banyak metode mengajar yang dapat dilakukan oleh seorng guru, misalnya menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, ekspositori, tanya jawab, penemuan, demonstrasi dan lain sebagainya. 
Metode demostrasi masih merupakan bagian dari metode ekspositori, yaitu metode yang berpusatkan pada guru atau didominasi oleh guru. Namun bedanya dengan metode ekspositori, metode demonstrasi lebih melibatkan siswa.
Selain daripada lebih dapat melibatkan siswa, metode ini lebih mengandung unsur penonjolan kebolehan pengajar, misalnya mendemonstrasikan membuktikan dalil, mencari rumus, dan memecahkan soal cerita (Ruseffendi, 1991:292).
Metode demonstrasi adalah suatu penyajian yang dipersiapkan secara teliti untuk mempertontonkan dan mempertunjukkan yaitu sebuah tindakan atau posedur yang digunakan. Metode ini disertai dengan penjelasan, ilustrasi, dan pernyataan lisan (oral) atau peragaan (visual) secara tepat dalam Canei, (1986:38). Dari batasan ini, nampak bahwa metode ini ditandai adanya kesengajaan untuk mempertunjukkan tindakan atau penggunaan prosesur yang disertai penjelasan, ilustrasi, atau pernyataan secara lisan maupun visual.
Winarno mengemukakan bahwa metode demonstrasi adalah adanya seorang guru, orang luar yang diminta, atau siswa memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas (Winarno, 1980:87). Batasan yang dikemukakan Winarno memberikan kepada kita, bahwa untuk mendemonstrasikan atau memperagakan tidak harus dilakukan oleh guru sendiri dan yang didemonstrasikan adalah suatu proses. Dengan memperdulikan batasan metode demonstrasi seperti dikemukakan oleh Cardille dan Winarno, maka dapat dikemukakan bahwa metode demonstrasi merupakan format interaksi belajar-mengajar yang sengaja mempertunjukkan atau memperagakan tindakan, proses, atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh siswa atau sebagian siswa. Dengan batasan metode demonstrasi ini, menunjukkan adanya tuntutan kepada guru untuk merencanakan penerapannya, memperjelas demonstrasi oral maupun visual, dan menyediakan peralatan yang diperlukan. (http://id.scribd.com/doc/70347505/PTK-Matematika-SD-Kelas-2).
Metode demonstrasi merupakan metode yang paling sederhana dibandingkan dengan metode-metode yang lainnya. Metode demonstrasi adalah pertunjukkan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya. Metode ini adalah yang paling pertama digunakan oleh manusia yaitu tatkala manusia purba menambah kayu untuk memperbesar nyala unggun api, sementara anak-anak mereka memperhatikan dan menirunya. Metode demonstrasi ini barangkali sesuai untuk mengajar bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode demonstrasi, peserta didik berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan. Dalam demonstrasi diharapkan setiap langkah pembelajaran dari hal-hal yang didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan mudah oleh murid dan melalui prosedur yang benar dan materi yang diajarkan dapat dimengerti.
Meskipun demikian, para siswa perlu juga mendapatkan waktu yang cukup lama untuk memperhatikan sesuatu yang didemonstrasikan itu dalam demonstrasi, terutama dalam rangka mengembangkan sikap-sikap, guru perlu merencanakan pendekatan secara lebih berhati-hati dan ia memerlukan kecakapan untuk mengarahkan motivasi dan berpikir siswa (Syaiful Sagala, 2011 : 211).



B.     Tujuan Penerapan Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi bertujuan untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan fisik daripada keterampilan-keterampilan intelektual.
Cardille mengemukakan bahwa metode demonstrasi dapat dipergunakan untuk:
a.       Mengajar siswa tentang bagaimana melakukan sebuah tindakan atau menggunakan suatu prosedur atau produk baru.
b.      Meningkatkan kepercayaan bahwa suatu prosedur memungkinkan bagi siswa melakukannya.
c.       Meningkatkan perhatian dalam belajar dan penggunaan prosedur. (Canei, 1986:38).

Sedangkan Winarno mengemukakan bahwa tujuan penerapan metode demonstrasi adalah :
a.       Mengajarkan suatu proses, misalnya proses pengaturan, proses pembuatan, proses kerja. Proses mengerjakan dan menggunakan.
b.      Menginformasikan tentang bahan yang diperlukan untuk membuat produk tertentu.
c.       Mengetengahkan cara kerja. (Winarno, 1980:87-88)

Berdasarkan pendapat di atas, maka tujuan penerapan metode demonstrasi yang dikemukakan oleh Cardille, dan Winarno, dapat diidentifikasi tujuan penerapan  metode demonstrasi yang mencakup:
a.       Mengajar siswa tentang suatu tindakan, proses atau prosedur keterampilan – keterampilan fisik/motoric.
b.      Mengembangkan kemampuan pengamatan pendengaran dan penglihatan para siswa secara bersama-sama.
c.       Mengkonkretkan infomasi yang disajikan kepada para siswa. (http://id.scribd.com/doc/70347505/PTK-Matematika-SD-Kelas-2)


C.    Prinsip Metode Pembelajaran Demonstration
Prinsip metode pembelajaran demonstrasi lebih menekankan kepada siswa untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Adanya tuntutan untuk selalu memberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Siswa juga dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. (Yatim Rianto, 2009:75)
Melalui metode demonstrasi, para siswa dapat mengamati secara lebih jelas tentang proses sesuatu yang dipelajari. Proses yang diamati secara konkret akan lebih jelas dibandingkan dengan hanya dipirkan secara abstrak saja. Inilah yang dapat menyebabkan metode demonstrasi sangat besar sekali manfaatnya untuk meningkatkan pemahaman para siswa tentang materi yang dipelajari terutama yang bersifat proses (Made Pidarta, 1990 : 64).

D.    Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Demonstration
Setiap metode pembelajaran, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitupun dengan metode pembelajaran demonstrasi, sebagai suatu metode pembelajaran, metode demonstrasi ini memiliki beberapa kelebihan, diantaranya yaitu :
1.      Melalui metode demonstrasi, verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memerhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
2.      Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
3.      Dengan cara mengamati secara langsung, siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian, siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.

Disamping beberapa kelebihan diatas, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya yaitu:
1.      Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab, tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukkan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.
2.      Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingan dengan ceramah.
3.      Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusu, sehinga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional. Disamping itu, demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guruyang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa (Wina Sanjaya, 2006:152).

Namun ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam metode demostrasi seperti yang disebutkan dalam bukunya Prof. Dr. Syaiful Sagala yang berjudul Konsep dan Makna Pembelajaran, bahwa kelemahan dari metode demonstrasi dapat diatasi dengan cara sebagai berikut :
1.      Tentukan terlebih dahulu hasil yang ingin dicapai dalam jam pertemuan itu.
2.      Guru mengarahkan demonstrasi itu sedemikian rupa sehingga para siswa memperoleh pengertian dan gambaran yang benar, pembentukan sikap dan kecakapan praktis.
3.      Pilih dan kumpulkan alat-alat demonstrasi yang akan dilaksanakan.
4.      Usahakan agar seluruh murid dapat mengikuti pelaksanaan demonstrasi itu sehingga memperoleh pengertian dan pemahaman yang sama.
5.      Berikan pengertian yang sejelas-jelasnya tentang landasan teori dari yang didemonstrasikan. Hindari dari pemakaian istilah yang tidak dimengerti oleh siswa.
6.      Sedapat mungkin bahan pelajaran yang didemonstrasikan adalah hal-hal yang bersifat praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
7.      Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan. Dan sebaiknya demonstrasi itu dimulai, guru tepat dan secara otomatis.

E.     Langkah-Langkah Metode Pembelajaran Demonstration
Dalam buku Strategi Pembelajaran yang ditulis oleh Wina Sanjya, langkah-langkah metode pembelajaran demonstrasi meliputi dua tahapan, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Adapun penjelasan mengenai tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Tahap Persiapan
Pada tahap pesiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan :
v  Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demostrasi berakhir. Tujuan ini eli[uti beberapa aspek seperti aspek pengetahuan, sikap, atau keterampilan tertentu.
v  Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang diperlukan sebagai panduan untuk menghindari kegagalan.
v  Lakukan uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang diperlukan.
2.      Tahap Pelaksanaan
a.       Langkah Pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya :
v  Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memerhatikan dengan jelas apa yang sedang didemonstrasikan
v  Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
v  Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
 b.      Langkah Pelaksanaan Demonstrasi
v  Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang meragsang siswa untuk  berpikir, misalnya melalui pertanyaan siswa untuk tertarik memerhatikan demonstrasi.
v  Ciptakan suasana yang menyejukkan untuk menghindari suasana yang menegangkan.
v  Yakinkan bahwa semua bisa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa.
v  Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.
c.       Langkah Mengakhiri Demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Dimana hal ini diperlukan untuk meyakinkah apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya juga bahwa guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya. (Wina Sanjaya, 2006:154).

Setelah perencanaan-perencanaan telah tersusun sebaiknya diadakan uji coba terlebih dahulu agar penerapannya dapat dilaksanakan dengan efektif dan tercapai tujuan belajar mengajar yang telah ditentukan. Dengan mengadakan uji coba dapat diketahui kekurangan dan kesalahan praktek secara lebih dini dan dapat peluang untuk memperbaiki dan menyempurnakannya.
Langkah selanjutnya dari metode ini adalah realisasinya yaitu saat guru memperagakan atau mempertunjukkan suatu proses atau cara melakukan sesuatu sesuai materi yang diajarkan. Kemudian siswa disuruh untuk mengikuti atau mempertunjukkan kembali apa yang telah dilakukan guru. Dengan demikian unsur-unsur manusiawi siswa dapat dilibatkan baik emosi, intelegensi, tingkah laku serta indera mereka, pengalaman langsung itu memperjelas pengertian yang ditangkapnya dan memperkuat daya ingatnya mengetahui apa yang dipelajarinya. Untuk mengetahui sejauh mana hasil yang dicapai dari penggunaan metode demonstrasi tersebut diadakan evaluasi dengan cara menyuruh murid mendemonstrasikan apa yang telah didemonstrasikan atau dipraktekkan oleh guru.
Pada hakikatnya, semua metode itu baik. Tidak ada yang paling baik dan paling efektif, karena hal itu tergantung kepada penempatan dan penggunaan metode terhadap materi yang sedang dibahas. Yang paling penting, guru mengetahui kelebihan dan kekurangan metode-metode tersebut. Metode demonstrasi ini tepat digunakan apabila bertujuan untuk: “Memberikan keterampilan tertentu, memudahkan berbagai jenis penjelasan sebab penggunaan bahasa lebih terbatas, menghindari verbalisme, membantu anak dalam memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian sebab lebih menarik”. (Eva Syarifah Nurhayati, 2008:15)

F.     Aplikasi pada Pembelajaran Matematika di Sekolah
Metode pembelajaran demonstrasi dapat diterapkan pada mata pelajaran matematika. Disini penyusun mencoba menerapkan metode tersebut pada materi bangun ruang. Sebelumnya akan dijelaskan terlebih dahulu apa yang disebut bangun ruang dan selanjutnya bagaimana metode demonstrasi tersebut diterapkan. Pada materi bangun ruang, guru telah menyediakan alat peraga yang berhubungan dengan bangun ruang, seperti jaring-jaring kubus dan balok serta alat peraga lainnya yang dapat menunjang proses pembelajaran. Ketika guru menyampaikan materi, para siswa memperhatikan, dan selanjutnya dapat mendemonstrasikan apa yang dipelajarinya. Kemudian diakhir pelajaran, guru menyampaikan kesimpulan.
Berikut materi yang disampaikan, beserta proses pembelajarannya.
 


1.      Pengertian Bangun Ruang
Dalam buku Ensiklopedia Matematika (ST. Negoro dan B. Harahap, 2010 : 20), yang dimaksud bangun ruang adalah jika suatu bangun tidak seluruhnya terletak dalam bidang. Misalnya ambil sebuah batu bata, kemudian kita bungkus dengan kertas, setelah dibungkus, keluarkanlah batu bata tersebut dengan syarat tidak merusak bungkusnya. Pembungkus itulah yang merupakan contoh dari suatu bangun ruang. Bangun ruang dibentuk oleh daerah sagi banyak yang disebut sisi.
Contoh model bangun ruang yang mempunyai 6 sisi.

 

2.      Mengenal Sisi, Rusuk, dan Titik Sudut Kubus maupun Balok
Perhatikan gambar dibawah ini
a.       Kubus 


b.      Balok





Gambar 8.2
 
 
Amatilah bangun-bangun yang berbentuk kubus dan balok. Permukaan kubus semuanya berbentuk persegi yang sama dan sebangun. Coba kalian ingat kembali bangun persegi. Keempat rusuk persegi sama panjang. Jika dikaitkan dengan bangun persegi panjang, persegi merupakan bentuk khusus dari persegi panjang. Karena permukaan kubus berbentuk persegi-persegi yang sama dan sebangun dapat kita katakan bahwa kubus merupakan bentuk khusus dari balok.
Pada gambar diatas, Kubus ABCD.EFGH dibatasi oleh bidang ABCD, ABFE, BCGF, CDHG, ADHE, dan EFGH. Bidang-bidang tersebut disebut sisi-sisi kubus ABCD.EFGH. Selanjutnya, AB , BC, CD , AD , EF , FG , GH , EH , AE , BF , CG , dan DH disebut rusuk-rusuk kubus ABCD.EFGH. Coba kalian amati bahwa tiap sisi kubus tersebut dibatasi oleh rusuk-rusuk.
Menurut kalian, apakah rusuk AB merupakan perpotongan bidang ABCD dan ABFE?
Rusuk-rusuk AB , BC , CD , dan AD disebut rusuk alas, sedangkan rusuk AE , BF , CG , dan DH disebut rusuk tegak. Dapatkah kalian menyebutkan rusuk mana saja yang termasuk rusuk atas?
Titik-titik A, B, C, D, E, F, G, dan H disebut titik sudut kubus ABCD.EFGH.
Menurutmu, apakah titik B merupakan perpotongan antara rusuk AB , BC, dan BF ?
Coba kalian bandingkan dengan balok pada gambar diatas, Setiap daerah persegi pada kubus dan daerah persegi panjang pada balok disebut bidang atau sisi. Perpotongan dua buah daerah persegi pada kubus atau dua buah daerah persegi panjang pada balok disebut rusuk. Adapun titik potong antara tiga buah rusuk disebut titik sudut.

Setelah memberikan penjelasan, guru memberikan tugas untuk didiskusikan. Tujuan dari diskusi tersebut adalah untuk menumbuhkan inovasi peserta didik. Tugas yang diberikan adalah sebagai berikut !
Diskusikan dengan temanmu. Amatilah kembali bangun-bangun ruang pada 8.1 Hitunglah banyak sisi, rusuk, dan titik sudut setiap bangun ruang pada gambar itu. Masukkan hasilnya pada tabel seperti berikut.
No
Nama Bangun Ruang
Banyak Sisi
Banyak Rusuk
Banyak Titik Sudut
1.
Kubus



2.
Balok



3.
Prisma Segitiga



4.
Tabung



5.
Limas segitiga



6.
Limas segi empat



7.
Kerucut



8.
Bola



Pada bangun ruang di atas, kecuali tabung, kerucut, dan bola,
cermatilah adakah hubungan antara banyak sisi, banyak rusuk,
dan banyak titik sudutnya?

Apakah kalian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara banyak sisi, banyak rusuk, dan banyak titik sudut pada bangun ruang di atas seperti berikut ini?
S + T = R + 2
dengan S = banyak sisi
T = banyak titik sudut
R = banyak rusuk
Rumus di atas dikenal dengan teorema Euler.
Coba cek kembali hasil pada tabel di atas dengan rumus tersebut. Apakah rumus tersebut juga berlaku untuk tabung, kerucut, dan bola? Mengapa demikian? Jelaskan jawabanmu.
3.      Bangun dari Sisi Kubus dan Balok
Agar kalian paham mengenai bentuk bangun dari tiap sisi balok, lakukan kegiatan berikut.
KEGIATAN












a.       Buatlah bangun seperti pada Gambar 8.3 (a) diatas dengan menggunakan kertas karton tebal.
b.      Guntinglah bangun tersebut menurut tepinya. Dari hasil guntingan tersebut kalian akan memperoleh suatu rangkaian tiga pasang daerah persegi panjang yang setiap pasangnya kongruen.
c.       Lipatlah bangun tersebut pada garis putus-putus, hingga terbentuk kotak seperti Gambar 8.3 (b). Bentuk kotak yang kalian peroleh disebut balok.

Perhatikan bahwa tiga pasang daerah persegi panjang pada gambar 8.3 (a) menjadi tiga pasang sisi balok seperti pada Gambar 8.3 (b). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suatu balok mempunyai tiga pasang sisi berbentuk daerah persegi panjang yang setiap pasangnya kongruen. Adapun untuk memahami bentuk bangun dari tiap sisi kubus, lakukan kegiatan seperti bangun balok di atas. Jiplaklah bangun seperti Gambar 8.3 (a) dengan menggunakan kertas karton tebal. Guntinglah menurut tepinya. Hasil guntingan tersebut berbentuk rangkaian enam daerah persegi yang saling kongruen. Dengan melipat bangun tersebut pada garis putus-putus, akan terbentuk bangun ruang seperti Gambar 8.3 (b). Bangun ruang tersebut selanjutnya dinamakan kubus.
Perhatikan bahwa enam daerah persegi pada Gambar 8.3 (a) menjadi enam sisi kubus seperti pada Gambar 8.3 (b). Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebuah kubus memiliki enam sisi berbentuk persegi yang kongruen.

4.      Rusuk-Rusuk yang Sejajar pada Bangun Ruang
Pada sebuah bidang datar, dua garis dikatakan sejajar jika kedua garis tersebut tidak berpotongan.


 




Perhatikan Gambar 8.5. Pada Gambar 8.5, ruas garis yang sejajar, yaitu AB sejajar dengan DC , ditulis AB // DC . Adapun AD tidak sejajar dengan BC. Mengapa?
Apakah pengertian garis sejajar pada bidang datar sama dengan garis sejajar pada bangun ruang? Agar kalian dapat menjawabnya, pelajari uraian berikut.


 






Perhatikan Gambar 8.6. Pada balok ABCD.EFGH tersebut, pasangan ruas garis yang sejajar antara lain
a.       AB dengan DC;
b.      AE dengan BF ;
c.       EH dengan FG .


Adapun pasangan ruas garis yang tidak sejajar antara lain
a.       AB dengan CG ;
b.      AE dengan DC;
c.       BC dengan DH .

Jika kita perhatikan pasangan AB dan CG maka ruas garis ruas garis tersebut tidak berpotongan meskipun diperpanjang di kedua ujungnya. Demikian halnya pada pasangan AE dan DC serta BC dan DH. Meskipun tidak berpotongan, namun garis-garis tersebut termasuk garis-garis tidak sejajar. Berarti ada syarat lain yang harus dipenuhi agar sepasang garis dikatakan sejajar dalam suatu bangun ruang. AB dan DC serta garis AE dan BF terletak pada satu bidang, yaitu bidang ABCD dan ABFE. Adapun AB dan CG , AE dan DC , serta BC dan DH terletak pada bidang yang berlainan. Jika dua garis dalam suatu bangun ruang tidak berpotongan terletak pada bidang yang berlainan maka kedua garis tersebut dikatakan bersilangan.
Jadi, dapat disimpulkan sebagai berikut. Dua garis dalam suatu bangun ruang dikatakan sejajar, jika kedua garis itu tidak berpotongan dan terletak pada satu bidang.





Sekarang, perhatikan kubus KLMN.OPQR pada Gambar 8.7. Ruas garis yang sejajar pada kubus KLMN.OPQR adalah
a.       KL//NM//OP //RQ;
b.      KN// LM// PQ//OR;
c.       KO// LP//MQ// NR.
Coba kalian sebutkan ruas garis yang tidak sejajar pada kubus KLMN.OPQR tersebut.
5.      Mengenal Diagonal Bidang, Diagonal Ruang, dan Bidang Diagonal
Perhatikan bidang TUVW pada Gambar 8.8. Ruas garis yang menghubungkan titik sudut T dan V serta U dan W disebut diagonal bidang atau diagonal sisi. Dengan demikian, bidang TUVW mempunyai dua diagonal bidang, yaitu TV dan UW . Jadi, setiap bidang pada balok mempunyai dua diagonal bidang. Dapatkah kalian menyebutkan diagonal bidang yang lainnya? Berapa banyaknya diagonal bidang pada balok? Diagonal bidang suatu balok adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan pada setiap biang atau sisi balok.
Perhatikan gambar 8.8






Hubungkan titik P dan V, Q dan W, R dan T, atau S dan U. PV , QW, RT , dan SU disebut diagonal ruang. Diagonal-diagonal ruang tersebut akan berpotongan di satu titik. Diagonal ruang pada balok adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan dalam suatu ruang. Suatu balok memiliki empat buah diagonal ruang yang sama panjang dan berpotongan pada satu titik (Dewi Nuharini, 2008 : 200-206).






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam sebuah pembelajaran selalu diperlukan suatu metode atau model pembelajaran agar pesera didik mengerti dan paham akan materi yang disampaikan oleh pendidik. Untuk itu bagi seorang pendidik harus pandai-pandai memilih model pembelajaran yang dapat menimbulkan siswa menjadi aktif dan kreatif, serta terarah oleh pendidiknya.
Untuk setiap metode pembelajaran, akan selalu mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Adapun untuk metode pembelajaran demonstration kelebihannya adalah proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi. Dan untuk kelemahannya metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab, tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukkan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.

B.     Saran
Demikian makalah ini kami buat, dan kami sadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata “sempurna”, oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca demi kelancaran dan perbaikan penulisan makalah berikutnya.








DAFTAR PUSTAKA

Negoro, ST dan B. Harahap. 2010. Ensiklopedia Matematika. Bogor : Ghalia Indonesia
Nuharini, Dewi dan Tri Wahyuni. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasi. Jakarta : Usaha Makmur
Nurhayati, Eva Syarifah. 2008. Efektifitas Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran Bidang Studi Fiqih Di Mts Soebono Mantofani Jombang Ciputat-Tangerang. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
Pidarta, Made. 1990. Cara blajar mengajar di Universitas Negara Maju. Jakarta : Bumi Aksara.
Rianto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Kencana Prenada Media Goup.
Ruseffendi. 1991. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung : Tarsito
Sagala, Syaiful. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Goup.
Winarno. 1980. Pengertian Metode Demonstrasi. Jakarta: Rineka Cipta.

0 komentar:

Posting Komentar