Selasa, 13 Juni 2017

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF SFAE (STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa belajar adalah suatu proses yang terjadi pada diri setiap orang selama hidupnya dan berjalan secara kompleks. Dimana, dalam setiap kegiatan belajar, di dalamnya akan terjadi aktifitas yang dilakukan secara sengaja dengan maksud mentransportasikan ilmu pengetahuan, nilai-nilai sosial budaya sekaligus norma-normanya dari generasi ke generasi agar tetap terlestarikan. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan dan  dimana saja. Ini bisa dibuktikan dengan berubahnya tingkah laku seseorang yang bisa terjadi pada tingkatan pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar mengajar, sehingga hal ini, media adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya.
Akan tetapi, problema yang sering ditemukan adalah penghadapan  guru dalam proses pembelajaran yaitu banyaknya bahan pembelajaran yang harus diajarkan dalam kurikulum 2006 serta waktu yang terbatas.  Selain kendala tersebut, tidak sedikit guru yang menghadapi masalah dalam mengorganisasikan bahan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian maju serta tata kehidupan masyarakat yang serba kompetitif mengharuskan adanya upaya yang maksimal untuk mampu menyesuaikan diri. Kemampuan menyesuaikan diri bisa  dilakukan dengan baik apabila didukung oleh pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Dalam kerangka inilah peranan guru  ditengah-tengah dunia pendidikan menjadi amat penting.
Guru  sebagai pendidik dapat berfungsi sebagai  Agent  of  Culture,  juga berfungsi selaku  Agent of  change. Dengan demikian guru mempunyai tugas guna melestarikan serta mentranformasikan nilai-nilai kultural kepada generasi muda, serta memberikan perubahan terhadap nilai-nilai kebudayaan ke arah yang lebih baik  dan berkualitas.

B.     Rumusan Masalah
·         Bagaimanakah kesulitan belajar dan pembelajaran matematika ?
·         Bagaimanakah kedudukan guru dalam pembelajaran ?
·         Bagimanakah konsep, prinsip-prinsip dasar, kelebihan dan kelemahan serta langkah-langkah model Student Facilitator and Explaining ?
·         Bagaimanakah penerapan model Student Facilitator and Explaining dalam pembelajaran matematika?

C.    Tujuan Masalah
·           Menjelaskan tentang kesulitan belajar dan pembelajaran matematika.
·           Menjelaskan kedudukan guru dalam pembelajaran.
·           Menguraikan tentang konsep, prinsip-prinsip dasar, kelebihan dan kelemahan serta langkah-langkah model Student Facilitator and Explaining.
·           Menjelaskan penerapan model Student Facilitator and Explaining dalam pembelajaran.

D.    Manfaat Penulisan
Makalah ini memiliki manfaat bagi penyusun dan pembaca makalah ini. Bagi penyusun diantaranya :
1.      Mengembangkan pengetahuan model  Student Facilitator and Explaining.
2.      Pembekalan sebagai calon guru untuk bisa memahami lebih dalam tentang model Student Facilitator and Explaining  dan cara penggunaanya atau pelaksanaanya.
3.      Mengembangkan keterampilan menulis karya ilmiah khususnya pembuatan makalah.
Bagi pembaca diantaranya :
1.      Memberikan pengetahuan tentang apa yang dimaksud dengan model Student Facilitator and Explaining.
2.      Memberikan gambaran tentang bagaimana penerapan atau pelaksanaan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining.
























BAB II
PEMBAHASAN

A.      Belajar dan Pembelajaran Matematika

Menurut Dr. Edi Prio Baskoro M.Pd., belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. (Edi Prio Baskoro, 2008:1)
Proses pembelajaran merupakan upaya mengkondisikan lingkungan agar terjadi kegiatan belajar. Melalui proses pembelajaran, diharapkan terjadi kegiatan belajar dan menghasilkan perubahan yang terarah ke arah positif sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan. (Eti Nurhayati, 2010:20)
Matematika adalah ilmu atau pengetahuan yang termasuk ke dalam atau mungkin yang paling padat dan tidak mendua arti. Pengajaran matematika itu bertujuan untuk meluruskan dan mempermudah siswa belajar berhitung dan cabang-cabang matematika lainnya. (Oemar Hamalik, 1991:71)
Seperti yang telah diketahui bersama pula bahwa salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai obyek yang bersifat abstrak dan sehingga menjadikan adanya anggapan bahwa maematika tersebut sulit. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika, kurang menghayati dan memahami matematika dan siswa mengalami kesulitan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari, mungkin juga dipacu oleh kegiatan belajar mengajar di kelas yang menggunkan metode yang dirasa membosankan bagi siswa.
Proses belajar mengajar bagi seorang siswa khususnya dalam matematika dapat dilihat dari tingkat pemahaman dan penguasaan materi. Keberhasilan siswa dalam menguasai pelajaran matematika tersebut juga berkaitan erat dengan pemahaman konsep dalam materi matematika. Rendahnya hasil belajar matematika disebabkan oleh beberapa faktor antara lain ditinjau dari tuntutan kurikulum yang lebih menekankan pada pencapaian target, bukan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika, serta aktivitas pembelajaran di kelas, yang mana guru aktif sementara siswa pasif. Akibatnya, anak cenderung menerima apa adanya, tidak memiliki sikap kritis. Selanjutnya, hal tersebut tentu akan berpengaruh kepada prestasi belajarnya terkhusus lagi dalam pelajaran matematika.
            Hampir setiap guru matematika setuju akan pentingnya motivasi yang benar untuk mengajarkan matematika. Murid-murid, kecuali yang memang secara alami sudah senang dengan matematika, perlu diberi rangsangan melalui teknik dan cara pengajaran yang tepat agar senang terhadap matematika. Hanya dengan cara yang demikian kita dapat menghilangkan masalah-masalah seperti kegelisahan terhadap matematika, yang merupakan masalah umum bertahun-tahun.
Murid-murid akan belajar secara efektif jika mereka benar-benar tertarik terhadap pelajarannya. Akan tetapi sulit bagi kebanyakan guru untuk menemukan persediaan gagasan tentang menyampaikan matematika secara menarik. Banyak guru yang terlibat dalam rutinitas menyampaikan materi pelajaran sehingga mereka kehilangan waktu dan energy untuk mencari hal-hal yang dapat memotivasi muridnya. Akan tetapi terdapat persediaan yang melimpah tentang matematika yang menarik.

B.       Kedudukan Guru dalam Pembelajaran

Seperti yang kita ketahui guru mempunyai ketentuan dan syarat-syarat yang harus dia penuhi, seperti umur, ijazah, kesehatan, kelakuan baik, tidak cacat, dan sebagainya. Adapun kedudukan guru adalah sebagai pembantu sekolah. Tugasnya dalam administrasi pendidikan adalah sebagi pebantu, yakni ikut melaksanakan administrasi pendidikan yang sebenarnya khususnya di sekolah dasar.
Mungkin pada masa lalu, tugas dan kewajiban guru hanya sebagi pengajar, yaitu menyampaikan atau melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada murid, memberi tugas yang kemudian melakukan evaluasi. Namun untuk dewasa ini, keawijan guru mulai berkembang. Dalam banyak hal pekerjaannya berhubungan erat dengan pekerjaan seorang pengawas , kepala sekolah, pegawai tata usaha dan sebagainya yang terkait dengan personil sekolah.
Begitu pula, guru diharapkan memiliki kreatifitas yang tinggi, sebagaimana dikuatkan oleh seorang ahli yaitu Gordon dalam Joice and Weill (1996) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik yang menentang pandangan lama tentang kreatifitas. Pertama, kreativitas merupakan suatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun rekayasa. Keempat, menunjukan bahwa berpikir kreatif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. (E. Mulyana, 2008:163)
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.
            Gilbert Hunt menyatakan bahwa guru yang baik harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a.         Sifat positif dalam membimbing siswa.
b.        Pengetahuan yang memadai dalam mata pelajaran yang dibina.
c.         Mampu menyampaikan materi secara lengkap.
d.        Mampu menguasai metodologi pembelajaran.
e.         Mampu memberikan harapan riil terhadap siswa
f.         Mampu mneguasai manajemen kelas. (Masdudi, 2011:35)

C.    Model Student Facilitator and Explaining

1.      Konsep Model Student Facilitator and Explaining
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian maju serta tata kehidupan masyarakat yang serba kompetitif mengharuskan adanya upaya yang maksimal untuk mampu menyesuaikan diri. Kemampuan menyesuaikan diri bisa  dilakukan dengan baik apabila didukung oleh pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Dalam kerangka inilah peranan guru  di tengah-tengah dunia pendidikan menjadi sangat penting.
Guru  sebagai pendidik dapat berfungsi sebagai  Agent  of  Culture,  juga berfungsi selaku  Agent of  change. Dengan demikian guru mempunyai tugas guna melestarikan serta mentranformasikan nilai-nilai kultural kepada generasi muda, serta memberikan perubahan terhadap nilai-nilai kebudayaan ke arah yang lebih baik  dan berkualitas. Keberhasilan siswa dalam mempelajari suatu materi pembelajaran (subject matter) terletak pada kemampuan mereka (pebelajar) mengelola belajar (management of learning), kondisi belajar (condition of learning), dan membangun struktur kognitifnya pada bangunan pengetahuan awal (prior knowledge), serta mempresentasikannya secara benar. Pengelolaan kegiatan pembelajaran dan kondisi belajar seseorang mempengaruhi proses terbentuknya pengetahuan di dalam struktur kognitif peserta didik. Kondisi belajar berkaitan dengan materi topik yang dipelajari (content), dan pengelolaan belajar  berhubungan dengan membangun pengetahuan.
Dewasa ini pengkajian dan pengembangan model serta implementasi pendekatan pembelajaran telah banyak dilakukan. Hal ini bertujuan guna mengungkapkan indikator yang paling dominan dalam mempengaruhi cara belajar siswa lebih bermakna dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Salah satu upaya tersebut dengan menggabungkan pendekatan pemecahan masalah (technological approach), dan pendekatan ilmiah (scientific approach).
Model Student Facilitator and Explaining (bermain peran) adalah merupakan pembelajaran dimana siswa atau peserta didik belajar mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model Student Facilitator and Explaining (bermain peran)  dilakukan dengan cara penguasaan siswa terhadap bahan-bahan pembelajaran melalui imajinasi dan penghayatan yang dilakukan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan yang dilakukan siswa dengan memerankan sebagai tokoh baik pada benda hidup atau benda mati. Model ini dapat dilakukan secara individu atupun secara kelompok. Oleh karenanya, model ini dapat meningkatkan motivasi belajar, antusias, keaktifan dan rasa senang dalam belajar siswa.

2.      Prinsip Model Student Facilitator and Explaining
Pembelajaran kooperatif Student Facilitator and Explaining merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.
Salah satu model pembelajaran yang dikemukakan oleh Adam dan Mbirimujo (1990:21) dalam Prasetyo bahwa untuk memperbanyak pengalaman serta meningkatkan motivasi belajar yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Student facilitator and explaining. Dikatakan dari hasil penelitiannya bahwa dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat meningkatkan antusias, motivasi, keaktifan dan rasa senang siswa dapat terjadi. Sehingga sangat cocok di pilih guru untuk digunakan pada pembelajaran bahasa. Karena pada model Student facilitator and explaining atau bermain peran ini suatu cara penguasaan siswa terhadap beberapa ketrampilan diantaranya ketrampilan berbicara, ketrampilan menyimak , ketrampilan pemahaman pada teks bacaan, dan ketrampilan seni dalam memerankan seorang tokoh sesuai konteks bacaan dalam keadaan riang. (Prasetyo, 2001:15)
Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa yaitu dengan menggunakan model pembeljaran kooperatif Student Facilitator and Explaining.
        Tiga tujuan Pembelajaran Kooperatif (Mulyasa, 2004) yaitu:
1. Hasil Akademik
Pembelajaran Kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang mempunyai orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini , siswa kelompok atas akan meningkatkan kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.
2. Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu
Efek penting yang kedua dari Model Pembelajaran Kooperatif adalah penerimaan yang luas terhadap orang berbeda ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan.
3. Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan penting Ketiga dari Pembelajaran Kooperatif ialah mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi.
Pembelajaran matematika dengan cooperative learning dapat meningkatkan daya nalar dan daya pikir anak serta dapat mengurangi kegiatan menghafal. Anak dapat merasakan bahwa berpikir lebih baik dari pada menghafal sehingga mereka akan lebih termotivasi dalam kegiatan belajar mengajar matematika. Coopertive learning yang meningkatkan hubungan kerjasama antar teman memacu anak untuk semakin maju dan bekerja keras dan hasil dari cooperative learning akan membantu masyarakat untuk mendapatkan seorang yang bekerja keras dan dapat bekerja sama.

3.    Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining
Kelebihan dalam model Student Facilitator and Explaining ini adalah :
(1)          Seluruh siswa dapat berpartisipasi dan mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dalam bekerja sama hingga berhasil.
(2)          Dapat menambah pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa. (Prasetyo, 2001:15)
Selanjutnya akan dipaparkan beberapa kelemahan tentang model pembelajaran Student Facilitator and Explaining yaitu sebagai berikut:
(1)          Adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang tampil.
(2)          Banyak siswa yang kurang aktif.

4.      Langkah-Langkah Model Pembelajaran Studnt Facilitator and Explaining
Disarankan saat guru menerapkan model SFAE, perlu diperhatikan kemampuan siswa, sebab model ini menuntut siswa yang dapat membaca, bertanggung jawab, memiliki kemampuan individu untuk menjadi fasilitator dan membelajarkan siswa. Guru disarankan juga menggunakan variasi model pembelajaran sehingga siswa tidak jenuh dan hasil belajar dapat meningkat.
Berikut ini adalah langkah-langkah dalam model pembelajaran Student Facilitator and Explaining :
1.        Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.        Guru mempresentasikan materi.
3.        Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya baik melalui bagan atau peta konsep lainnya.
4.        Guru menyimpulkan pendapat atau ide siswa.
5.        Guru menerangkan atau merangkum semua materi yang dipresentasikan itu.
6.        Penutup. (Yatim Riyanto, 2010:279)

5.      Penerapan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining Pada Mata Pelajaran Matematika
Berikut ini contoh penerapan Student Facilitator and Explaining pada mata pelajaran matematika :
I.         Pokok bahasan     : Segiempat (persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium)
           Pengetahuan dasar :
·           Persegi panjang adalah segi empat yang dapat menempati bingkainya dengan tepat empat cara dan tiap-tiap sudutnya dapat menempati sudut yang lain secara tepat.
·           Persegi adalah segiempat yang dapat menempati bingkainya dengan tepat delapan cara dan tiap-tiap sudutnya dapat memenuhi sudut yang lain secara tepat.
·           Jajargenjang dibentuk dari gabungan sebuah segitiga dan bayangannya setelah diputar setengah putaran pada titik tengah salah satu sisi segitiga.
·           Belah ketupat dibentuk dari gabungan segitiga sama kaki dan bayangannya oleh pencerminan terhadap alas segitiga.
·           Layang-layang dibentuk dari gabungan dua segitiga sama kaki yang alasnya sama panjang dan saling berimpit.
·           Trapesium adalah segiempat yang memiliki tepat sepasang sisi berhadapan yang sejajar.
II.      Kelas / semester/ waktu   : VII / II / 2 x 40 menit ( 1 pertemuan )
III.   Kompetensi dasar :
·         Mengidentifikasi sifat-sifat persegi panjang, persegi, trapesium, jajargenjang, belah ketupat dan layang-layang.
IV.   Hasil belajar dan tugas & penilaian
Hasil Belajar
Tugas dan Penilaian
Siswa memahami pengertian persegi panjang, persegi, trapesium, jajargenjang, belah ketupat dan layang-layang.
1.  Sebutkan pengertian dari bangun segi empat.
Ø Persegi panjang?
Ø Persegi?
Ø Trapesium?
Ø Jajargenjang?
Ø Belah ketupat?
Ø Layang-layang?
Siswa memahami sifat-sifat persegi panjang, persegi, trapesium, jajargenjang, belah ketupat dan laying-layang
2.  Gambarlah bangun segi empat, amati bentuknya.
Ø Sebutkan sifat-sifat segi empat?
Ø Sebutkan garis yang sejajar, garis diagonal dan garis yang sama panjang pada bangun segi empat?
Ø Siswa mampu mengenali sifat-sifat pada bnagun segi empat
Siswa mampu menentukan rumus keliling dan luas bangun segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
3.  Siswa menyiapkan bentuk gambar segi empat
Ø Bagaimana rumus keliling bangun segi empat?
Ø Bagaimana rumus luas bangun segi empat?
Ø Siswa menyebutkan barang yang menyerupai bentuk segi empat?
Ø Siswa Menghitung panjang dan lebar bentuk segi empat?
Ø Siswa menghitung keliling dan luas bentuk segi empat?

V.      Keterampilan yang diharapkan
·         Disiplin ( Discipline )
·         Rasa hormat dan perhatian ( respect )
·         Tekun ( diligence )
·         Tanggung jawab ( responsibility )
VI.         Langkah-langkah Kegiatan Penerapan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining  
a.         Pendahuluan                     :
·         Apersepsi : Menyampaikan tujuan pembelajaran.
·         Memotivasi siswa dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.
·         Membahas PR.
b.        Kegiatan Inti
·         Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
1.      Siswa diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru mengenai pengertian jajargenjang, persegi, persegi panjang, belah ketupat, trapesium, dan layang-layang menurut sifatnya serta mengenai sifat-sifat segi empat ditinjau dari sisi,  sudut, dan diagonalnya, mengetahui rumus mencari luas dan keliling pada bagun ruang datar segi empat  kemudian antara peserta didik dan guru mendiskusikan materi tersebut (Bahan: buku paket, yaitu buku Matematika Kelas VII Semester 2.        
2.      Siswa mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan pengertian jajargenjang, persegi, persegi panjang, belah ketupat, trapesium, dan layang-layang menurut sifatnya serta mengenai sifat-sifat segi empat ditinjau dari sisi,  sudut, dan diagonalnya dan .           
3.      Siswa dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket mengenai mengetahui rumus mencari luas dan keliling pada bagun ruang datar segi empat.
4.      Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya baik melalui bagan atau peta konsep lainnya.
Persegi panjang:
Persegi:

Trapesium:

 
Jajar genjang:
Belah Ketupat:



Layang-layang:

·         Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
1.      Siswa mengerjakan beberapa soal dari “Bekerja Aktif“ dalam buku paket mengenai penamaan bangun datar berdasarkan bentuk bangun datar, pengisian sifat-sifat yang terdapat pada jajar genjang, peregi, persegi panjang, dan belah ketupat, dan penyusunan pengertian jajargenjang, peregi, persegi panjang, dan belah ketupat, mengenai pengguntingan bentuk jajargenjang, peregi, persegi panjang, dan belah ketupat yang digambar pada kertas berpetak, mengenai sifat-sifat jajar genjang, persegi, persegi panjang dan belah ketupat ditinjau dari sisi,  sudut, dan diagonalnya, serta mengenai sudut-sudut dalam bangun datar, mengenai penentuan sifat-sifat dari trapesium siku-siku, trapesium sama kaki, dan trapesium sembarang, dan 0 mengenai penentuan sifat-sifat dari layang-layang, kemudian peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal tersebut.
2.      Siswa mengetahui rumus mencari luas dan keliling pada bagun ruang datar segi empat.
3.    Siswa mengerjakan soal-soal dari “Cek Pemahaman“ dalam buku paket mengenai bentuk bangun datar (segi empat, jajargenjang, layang-layang, segi enam, trapesium, belah ketupat), kemudian peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal tersebut.
4.    Siswa mengerjakan beberapa soal  dalam buku paket.
5.    Siswa mengerjakan beberapa soal dari “Kompetensi Berkembang Melalui Latihan“ dalam buku paket mengenai pengertian jajargenjang, persegi, persegi panjang, belah ketupat, trapesium, dan layang-layang menurut sifatnya serta mengenai sifat-sifat segi empat ditinjau dari sisi,  sudut, dan diagonalnya, kemudian peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas beberapa jawaban soal tersebut.
·     Konfirmasi
 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
1.      Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa.
2.      Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan.
c.         Penutup
      Dalam kegiatan penutup, guru:
1.      Bersama-sama dengan siswa dan atau sendiri membuat rangkuman atau simpulan  pelajaran;
2.      Melakukan penilaian dan atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
3.      Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
4.      Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar siswa;
VII.     Sumber bacaan
·         Matematika untuk SMP kelas VII edisi 4 ( Penerbit: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional)
·         Buku matematika lainnya sebagai referensi mengenai segi empat
VIII.       Pengayaan
            Siswa dapat melakukan kegiatan tambahan berikut ini untuk lebih lanjut memahami bagaimana menghitung keliling dan luas suatu bangun segi empat.
























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pembelajaran kooperatif Student Facilitator and Explaining merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.
Model Student Facilitator and Explaining (bermain peran) adalah merupakan pembelajaran dimana siswa atau peserta didik belajar mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model Student Facilitator and Explaining (bermain peran)  dilakukan dengan cara penguasaan siswa terhadap bahan-bahan pembelajaran melalui imajinasi dan penghayatan yang dilakukan siswa.
B.     Saran
Puji syukur ke-Hadirat-Nya karena makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Namun, penyusun sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena tentu dalam makalah ini terdapat banyak sekali kekurangan. Sehingga kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat dibutuhkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

0 komentar:

Posting Komentar