Minggu, 20 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN CONCEPT SENTENCE


A.    Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Negara yang maju adalah Negara yang pendidikannya maju pula, dan demikian sebaliknya. Jadi pendidikan menopang kemajuan bangsa itu. Itulah sebabnya mutu pendidikan yang rendah menjadi keprihatinan bangsa secara keseuruhan, bukan hanya kalangan tertentu yang terlibat dalam proses pendidikan.

Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan masyarakat yang berkualitas, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subjek yang semakin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional pada bidangnya masing-masing.
Proses pembelajaran memerlukan suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Secara khusus dalam proses pembelajaran guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dengan masyarakat, administrator dan lain-lain. Untuk itu wajar bila guru memahami dengan segenap aspek pribadi anak didik seperti:
(1)  kecerdasan dan bakat khusus,
(2)  prestasi sejak permulaan sekolah,
(3)  perkembangan jasmani dan kesehatan,
(4)  kecenderungan emosi dan karakternya,
(5)  sikap dan minat belajar,
(6)  cita-cita,
(7)  kebiasaan belajar dan bekerja,
(8)  hubungan sosial di sekolah dan di rumah,
(9)  latar belakang keluarga,
(10)   sifat-sifat khusus dan kesulitan belajar anak didik.

Usaha untuk memahami anak didik ini bisa dilakukan melalui evaluasi, selain itu guru mempunyai keharusan melaporkan perkembangan hasil belajar para siswa kepada kepala sekolah, orang tua, serta Instansi yang terkait.
1.      Guru    :
Penggunaan metode consept sentence dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai alternatif dalam membelajarakan keterampilan berpikir siswa dalam memahami materi. Sehingga proses belajar menjadi lebih beragam, mudah diserap siswa dan menyenangkan.
2.      Siswa    :
Mempermudah siswa memahami dan menerima materi pelajaran khususnya memahami kata-kata kunci materi pokok pelajaran.


B.    Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran kooperatif learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yang
dikemukakan oleh Johnson & Johnson (dala http://www.WordPress.com/2012/12) yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Sedangkan Lie (2005) menyebutkan model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan.
Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (student oriented). Dengan suasana kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal. Peran guru dalam pembelajaran kooperatif sebagai fasilitator, moderator, organisator dan mediator terlihat jelas.
Pembejaran kooperatif bertitik tolak dari pandangan John Dewey dan Herbert Thelan yang menyatakan, pendidikan dalam masyarakat yanag demokratis seyogiannya mengajarkan proses demokratis secara langsung. Tingkah laku kooperatif dipandang oleh Dewey dan Thelan sebagai dasar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi. Proses demokrasi dan peran aktif merupakan ciri yang khas dari lingkungan pembelajaran kooperatif.
Dalam pembentukan kelompok, guru menerapkan struktur tingkat tinggi, dan guru juga mendefinisikan sama prosedur. Meskipun demikian, guru tidak dibenarkan mengelola tingkah laku siswa dalam kelompok secara ketat, dan siswa memiliki ruang serta peluang untuk secara bebas mengendalikan aktivitas-aktivitas didalam kelompoknya. Selain itu, pembelajaran kooperatif menjadi sangat efektif jika materi pembelajaran tersedia lengkap di kelas, ruang guru, perpustakaan ataupun di pusat media (Trianto, 2011:63).
Menurut (Melvin L. Silberman, 2011:13) dalam proses pembelajaran kooperatif, siswa dituntut aktif di kelas baik mengemukakan pendapat ataupun bertanya. Adapun cara-cara supaya siswa aktif sejak awal, diantaranya adalah:
a.    Pembentukan tim, membantu siswa menjadi lebih mengenal satu sama lain atau menciptakan semangat kerjasama dan kesalingtergantungan.
b.    Penilain serentak, mempelajari tentang sikap, pengetahuan, dan pengalaman siswa.
c.    Pelibatan belajar secara langsung, menciptakan minat awal terhadap pelajaran.
Adapun tehnik-tehnik yang dirancang untuk membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap  secara aktif.
a.    Proses belajar satu kelas penuh, pengajaran yang dipimpin oleh guru yang menstimulasi seluruh siswa.
b.    Diskusi kelas, dialog dan debat tentang persoalan-persoalan utama.
c.    Pengajuan pertanyaan, siswa meminta penjelasan.
d.    Kegiatan belajar kolaboratif, tugas dikerjakan secara bersama dalam kelompok kecil.
e.    Pengajaran oleh teman sekelas, pengajaran oleh siswa sendiri.
f.    Kegiatan belajar mandiri, kegiatan belajar yang dilakukan perseorangan.
g.    Kegiatan belajar aktif, kegiatan yang membantu siswa memahami peranan, perasaan, nilai-nilai, dan sikap mereka.
h.    Pengembangan keterampilan, mempelajari dan mempraktikkan keterampilan, baik teknis maupun non-teknis (Melvin, 2011:14).
   


Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya:
(a) siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis,
(b) anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan 
                  rendah, sedang, dan tinggi.
(c) jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku,          
                  budaya, dan jenis kelamin,
(d) sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu.   
                 (http://www.idonbiu.com/2012/12/pembelajaran-cooperative-learning.htm).

Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong menolong dalam beberapa perilaku sosial. Sharan (dalam Isjoni, 2010:23) menyebutkan bahwa siswa yang belajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif akan memiliki motivasi yang tinggi karena didorong dan didukung dari rekan sebaya. Jadi, siswa tidak lagi memperoleh pengetaghuan itu hanya dari guru, dengan belajar kelompok seorang teman haruslah memberikan kesempatan kepada teman lainnya untuk mengemukakan pendapatnya dengan cara mengharagi pendapat orang saling mengoreksi kesalahan, dan saling membetulkan satu sama lainnya.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa akan terlatih untuk mendengar pendapat-pendapat orang lain dan merangkum pendapat-pendapat tersebut dalam bentuk tulisan. Tugas–tugas orang lain akan memacu siswa untuk bekerja sama, saling membantu dalam mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimiliki.
Ada tiga tujuan yang diharapkan dapat dicapai dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
a.  Prestasi akademik
Pembelajaran kooperatif sangat menguntungkan baik bagi siswa berkemampuan tinggi maupun rendah. Khususnya bagi siswa berkemampuan tinggi, secara akademik akan mendapat keuntungan karena pengetahuan semakin mendalam.
b.  Penerimaan terhadap keanekaragaman
Heterogen yang ditonjolkan dalam pemilihan anggota kelompok akan mengarahkan siswa untuk mengakui dan menerima perbedaan yang ada antara dirinya dan orang lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Pembelajaran kooperatif bertujuan mengarahkan kepada keterampilan-keterampilan kerjasama sebagai suatu tim. Keterampilan ini kelak akan sangat bermanfaat bagi siswa ketika mereka terjun di masyarakat.
Keuntungan guru menggunakan pembelajaran kooperatif  ialah dapat menimbulkan suasana yang baru dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan sebelumnya hanya dilaksanakan model pembelajaran secara konvensional yaitu camah dan tanya jawab. Metode tersebut ternyata kurang memberi motivasi dan semangat kepada siswa untuk belajar. Dengan digunakannva model cooperative learning, maka tampak suasana kelas menjadi lebih hidup dan lebih bermakna. Selain itu, pembelajaran kooperatif  mampu mengembangkan kesadaran pada diri siswa terhadap permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dengan bekerja kelompok maka timbul adanya perasaan ingin membantu siswa lain yang mengalami kesulitan sehingga mampu mengembangkan sosial skill siswa.

C.    Metode Consept Sentence
Metode concept sentence adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan kartu-kartu yang berisi beberapa kata kunci kepada siswa, kemudian kata kunci-kata kunci tersebut disusun menjadi beberapa kalimat dan dikembangkan menjadi paragraf-paragraf (Kiranawati: 2008). Metode ini dilakukan dengan siswa dibentuk kelompok heterogen dan membuat kalimat dengan minimal 4 kata kunci sesuai materi yang disajikan
Metode consept sentence merupakan metode pembelajaran yang diawali dengan menyampaikan kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci, sesuai materi bahan ajar, dan tiap kelompok membuat kalimat berdasarkan kata kunci (Guruclub: 2008). Prosedur selanjutnya dalam pembelajaran ini adalah mempresentasikan hasil belajar secara bergantian di depan kelas.
Metode consept sentence adalah metode pembelajaran yang diawali dengan langkah menyampaikan kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci, sesuai materi bahan ajar, tiap kelompok membuat kelompok berdasarkan kata kunci (Erman: 2009).
Dari pengertian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa metode consept sentence adalah metode pembelajaran dengan cara memberikan kartukartu yang berisi kata kunci untuk dibuat kalimat-kalimat, yang selanjutnya disusun menjadi sebuah paragraf. Pada setiap kata kunci dibuat minimal empat kalimat.
Dalam melaksanakan metode concept sentence terdapat langkah-langkah yang perlu dilakukan (Kiranawati: 2008). Langkah-langkah dalam pembelajaran dengan metode concept sentence meliputi,
(1) guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai,
(2) guru menyajikan materi terkait dengan pembelajaran secukupnya,
(3) guru membentuk kelompok yang anggotanya kurang lebih 4 orang secara heterogen,
(4) guru menyajikan beberapa kata kunci sesuai dengan materi yang disajikan,
(5) setiap kelompok diminta untuk membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal
      4 kata kunci setiap kalimat,
(6) hasil diskusi kelompok didiskusikan kembali secara pleno yang dipandu oleh guru
(7) siswa dibantu oleh guru memberikan kesimpulan.
Terdapat beberapa kelebihan metode pembelajaran concept sentence. Kelebihan metode concept sentence tersebut meliputi,
(1) meningkatkan semangat belajar siswa,
(2) membantu terciptanya suasana belajar yang kondusif,
(3) memunculkan kegembiraan dalam belajar,
(4) mendorong dan mengembangkan proses berpikir kreatif,
(5) mendorong siswa untuk memandang susuatu dalam pandangan yang berbeda,
(6) memunculkan kesadaran untuk berubah menjadi lebih baik,
(7) memperkuat kesadaran diri,
(8) lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran,
(9) siswa yang lebih pandai mengajari siswa yang kurang pandai (Kiranawati: 2008).

Adapun penjelasan dari beberapa kelebihan concept sentence adalah :

1.    Meningkatkan semangat belajar siswa. Dengan metode pembelajaran ini diharapkan semangat belajar siswa meningkat. Dengan metode baru siswa menjadi lebih bersemangat, karena kebanyakan siswa menyukai dan tertarik dengan hal-hal baru.

2.    Membantu terciptanya suasana belajar yang kodusif. Dengan metode pembelajaran concept sentence kondisi kelas menjadi terkendali dan suasana belajar pun menjadi kondusif. Dengan suasana belajar yang kondusif penyerapan materi pembelajaran menjadi baik. Hal ini tentu saja meningkatkan hasil pembelajaran siswa.
3.    Memunculkan kegembiraan dalam belajar. Metode pembelajaran concept sentence menimbulkan suasana yang gembira dan menyenangkan dalam belajar. Pada metode ini pembelajaran dikemas seperti sebuah permainan kuis sehingga siswa menjadi lebih senang dan bergembira.

4.    Mendorong dan mengembangkan proses berpikir kreatif. Metode pembelajaran concept sentence ini dapat mendorong dan mengembangkan proses berpikir kritis dan kreatif. Siswa dituntut untuk berpikir bagaimana menciptakan hal-hal baru yang menarik dan hebat. Dengan begitu, siswa menjadi termotivasi untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Hal itu tentu saja berdampak positif pada hasil pembelajaran. Dengan motivasi tersebut siswa menjadi meningkat hasil pembelajarannya karena mereka cenderung aktif.
5.    Mendorong siswa untuk memandang sesuatu dalam pandangan yang berbeda. Metode pembelajaran concept sentence ini juga dapat mendorong siswa untuk memandang sesuatu dalam pandangan yang berbeda. Siswa menjadi bertambah wawasan dan pengetahuannya. Mereka akan terbiasa menyikapi segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda sehingga mereka tidak lagi kaku dalam menyikapi suatu permasalahan.

6.    memunculkan kesadaran untuk berubah menjadi lebih baik. Dengan metode pembelajaran concept sentence, juga dapat memunculkan kesadaran siswa untuk berubah menjadi lebih baik. Dengan pengalaman yang bermacam-macam siswa akan menjadi lebih baik.
7.    memperkuat kesadaran diri. Metode pembelajaran concept sentence ini juga dapat memperkuat kesadaran diri siswa. Mereka dengan sendirinya akan sadar dan dapat menentukan hal terbaik yang harus dilakukannya.
8.    lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran. Dengan metode pembelajaran concept sentence siswa menjadi lebih mudah dalam menerima dan memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Hal ini karena semua siswa benar-benar terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Tidak ada siswa yang pasif sehingga siswa benar-benar memahami materi pembelajaran.
9.    siswa yang lebih pandai mengajari siswa yang kurang pandai. Dengan metode pembelajaran ini, siswa yang pandai dapat membantu mengajari siswa yang kurang pandai. Sifat egoisme dan individual sudah ditanggalkan berganti dengan sikap saling membantu dan kekeluargaan.

Sulchan Yasyin dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia menyatakan bahwa daya adalah tenaga atau kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan; tenaga yang menyebabkan timbulnya gerak usaha, ikhtiar (Sulhan Yasyin, 1997:110).
Arifin mengatakan bahwa: "Belajar adalah suatu kegiatan anak didik dalam menerima, mencapai serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh guru yang berakhir pada kemampuan anak dalam menguasai pelajaran yang disampaikan" (Arifin, 1976:172). Dewa Ketut Sukardi mengatakan bahwa: “Belajar adalah perubahan sikap dan kebiasaan, penguasaan nilai-nilai pengetahuan, keterampilan, penggunaan kebiasaan-kebiasaan baik, nilai-nilai pengetahuan atau keterampilan yang telah dimilikinya” (Dewa Ketut Sukardi, 1983:24). Oemar H. Malik dalam Khoiri mengatakan bahwa: “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku berkat pengalaman dan latihan” (Khoiri, 2006:24).
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa daya serap belajar siswa adalah kemampuan siswa dalam mempelajari, merespon dan mempraktikkan apa yang diajarkan, dibaca, didengar, dan dipelajarinya.

Jenis-jenis Tingkat Daya Serap Belajar Siswa
Tingkat daya serap belajar siswa bermacam-macam yaitu terdapat siswa yang memiliki daya serap belajar tinggi, sedang, dan rendah. Menurut Piet A. Sahertian (1994:101) ukuran tingkat daya serap belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga hal sebagai berikut:
a. Siswa yang maju
Siswa yang termasuk dalam kategori maju adalah siswa yang memiliki kemampuan yang baik dalam menerima setiap materi yang dipelajarinya. Siswa yang maju lebih cepat memahami materi pelajaran dan memiliki daya analisis yang cukup baik. Siswa yang maju dapat dilihat dari kecepatan memberikan jawaban atau tanggapan pada setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh guru.
b. Siswa yang cukup
Yang termasuk dalam kategori siswa yang cukup merupakan siswa yang memiliki kemampuan rata-rata dari siswa lainnya. Mereka tidak memiliki kemampuan yang begitu menonjol tetapi memiliki daya serap dan responbilitas yang baik terhadap materi yang dipelajarinya.
c. Siswa yang kurang
Seorang siswa termasuk dianggap kurang apabila sangat lemah dalam menerima materi yang diajarkan atau yang dipelajarinya. Bagi siswa seperti ini, materi harus diajarkan berulang-ulang agar mereka memahaminya dengan baik.

D.    Implementasi Tindakan

Implementasi Tindakan menggunakan 2 Siklus atau lebih. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut :
1)      Perencanaan
    a)      Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar  mengajar.
    b)      Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
    c)      Memilih bahan pelajaran yang sesuai.
    d)     Menentukan skenario pembelajaran dengan metode consept sentence.
    e)      Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat Bantu yang dibutuhkan.
    f)       Menyiapkan format evaluasi.
    g)      Menyiapkan format observasi pembelajaran.

2)      Tindakan
a)      Guru menyampaikan Kompetensi yang akan dicapai
b)     Guru menjelaskan materi terkait dengan pembelajaran secukupnya
c)      Siswa mendengarkan penjelasan materi dari guru.
d)     Guru membentuk kelompok yang anggotanya ± 4 orang secara heterogen.
e)      Guru menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan
f)       Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 3 kata kunci setiap kalimat
g)      Hasil diskusi kelompok didiskusikan kembali secara pleno yang d    ipandu oleh guru.
h)     Siswa bersama guru membuat kesimpulan.

3)      Pengamatan
a)      Melakukan observasi dengan menggunakan format observasi yang sudah disiapkan.
b)     Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format evaluasi  yang sudah disiapkan.
4)    Refleksi
a)      Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
b)     Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario pembelajaran dan evaluasi.
c)      Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya jika diperlukan perbaikan atau peningkatan terhadap metode yang dilakukan.




DAFTAR PUSTAKA

Usman Uzer, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya,Bandung, 1999.
Ruindungan Max, Teknik dan Alat Pengumpul Data Penelitian Tindakan Kelas,
STAKN Manado, 2011.
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN ; Materi Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Rayon 27 Universitas Negeri Manado, Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Manado, 2009.
00357KI10-sampul. Pdf. Di unduh pada tanggal 05 Desember 2011 pukul 14.01.
Membimbing Guru dalam Penelitian Tindakan Kelas ; Materi Pelatihan Penguatan-penguatan Pengawas Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional, 2010.
Sidjabat Samuel, Strategi Pendidikan Kristen; Suatu Tinjauan Teologis-Filosofis,
Yayasan ANDI, Yogyakarta, 1994.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.

Silberman, Melvin L. 2OO9. Active Learning. Bandung: Nuansa.

         
   


0 komentar:

Posting Komentar