Senin, 12 Desember 2016

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CORE

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Dalam belajar matematika, pada dasarnya seseorang tidak terlepas dari pemecahan masalah karena berhasil atau tidaknya seseorang dalam matematika ditandai adanya kemampuan pemecahan masalah yang dihadapinya (Fadillah, 2008). Pemecahan masalah itu penting bukan saja bagi kehidupan siswa dikemudian hari ketika akan mendalami  matematika, tetapi juga mereka yang akan menerapkannya baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari  (Ruseffendi, 1991)

 Bidang studi matematika secara garis besar memiliki dua arah pengembangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang (Subakti, 2009: 1). Berdasarkan pendapat Subakti ini maka ada dua visi dalam pembelajaran matematika. Visi pertama mengarahkan pembelajaran matematika untuk pemahaman konsep-konsep yang kemudian diperlukan untuk menyelesaikan masalah matematika dan ilmu pengetahuan yang lainnya, sedangkan visi kedua mengarahkan pada masa depan yang lebih luas yaitu matematika memberikan kemampuan pemecahan masalah, sistematis, kritis, cermat, bersikap objektif dan terbuka sehingga diharapkan kemampuan ini akan berpengaruh positif bagi masa depan siswa.

Ditengah pentingnya kemampuan pemecahan masalah, ditemukan fakta bahwa kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki oleh siswa Indonesia tergolong masih rendah. Hal ini berdasarkan hasil tes Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2007 yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) siswa Indonesia kurang dari satu persen di bawah rata-rata internasional yaitu sebesar 2 %. Sedangkan siswa di negara Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura di atas 40 % (Rizali, 2008). Fakta yang serupa didapatkan berdasarkan hasil tes PISA yang menyatakan  bahwa siswa Indonesia yang memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik tidak lebih dari 10 %, kemampuan pemecahan masalah siswa Indonesia menduduki peringkat ke 63 dari 65 negara (PISA, 2009).

Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa akan berdampak pada rendahnya prestasi siswa disekolah. Kemampuan pemecahan masalah dapat diperoleh bila dalam proses pembelajaran terjadi komunikasi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa yang merangsang terciptanya partisipasi siswa (Subakti, 2009). Artinya, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yaitu dengan memilih model pembelajaran yang lebih menekankan keaktifan pada diri siswa. Dalam hal ini model pembelajaran yang akan dibahas adalah model pembelajaran kooperatif tipe CORE.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah model pembelajaran CORE itu ?
2. Apa saja kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran CORE ?
3. Bagaimana tahap yang dilakukan dalam pembelajaran tipe CORE ?


C. Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui apa yg dimaksud model pembelajaran CORE
2. Memahami kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran CORE
3. Mengetahui tahap-tahap yang dilakukan dalam pembelajaran kooperatif tipe CORE

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Paradigma Baru Pendidikan

Freire (1986) memberikan paradigma baru bagi pendidikan berdasarkan paradigma kritis. Freire mengacu pada suatu landasan bahwa pendidikan adalah proses memanusiawikan manusia kembali. Gagasan tersebut berangkat dari pendidikan yang menjadi pelanggeng dehumanisasi (peniadaan pemanusiawian manusia). Freire membagi kesadaran manusia dalam belajar ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama adalah kesadaran magis, yakni kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor satu dengan faktor lainnya. Proses pendidikan metode tersebut tidak memberikan kemampuan analisa tentang kaitan antara sistem yang diciptakan dalam proses pelatihan dalam pendidikan dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Peserta didik secara dogmatis menerima kebenaran dari pendidik tanpa ada mekanisme pemahaman makna setiap konsepsi kehidupan masyarakat.

Kelompok kedua adalah kesadaran naïf, yakni melihat aspek manusia menjadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Pendidikan dalam konteks naïf tersebut tidak mempertanyakan sistem dan struktur pelatihan. Bahkan sistem dan struktur yang ada dianggap sudah baik dan benar. Sistem tersebut dianggap given. Oleh sebab itu, tidak perlu dipertanyakan. Tugas pelatihan atau proses pelatihan adalah mengarahkan agar peserta didik dapat masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut.

Kelompok ketiga disebut dengan kesadaran kritis. Kesadaran tersebut lebih melihat sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Paradigma kritis dalam pendidikan melatih peserta didik mampu mengidentifikasi ketimpangan struktur dan sistem yang ada kemudian mampu melakukan analisa bagaimana sistem bekerja serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta didik terlibat suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan sesuai dengan diri peserta didik.

Pertanyaannya, apakah selama ini pendidikan yang diselenggarakan belum menyentuh pola kesadaran kritis? jawabnya, secara tegas belum. Mengapa harus malu-malu mengatakan bahwa sistem pendidikan kita ini masih bersifat magis dan naïf. Nyatanya, memang demikian. Lihat saja, pendidikan yang sering diselenggarakan berorientasi pada sistem baku yang harus dianut karena telah digariskan dari pusat atau daerah atau dari mana saja. Tidak pernah, pendidikan yang diselenggarakan oleh kita berorientasi pada peserta pendidikan. Materi bersifat fleksibel berdasarkan keinginan peserta. Peserta terlibat secara total karena terjadi pemanusiawian peserta kursus.

Kembali ke Freire, pendidikan dengan paradigma kritis menempatkan peserta didik sebagai subjek. Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subjek bukan penderita atau objek. Panggila manusia sejati adalah menjadi pelaku sadar yang bertindak mengatasi dunia. Manusia harus menggeluti dunia dengan sikap kritis dan daya cipta. Manusia memiliki kepribadian dan eksistensi berbeda dengan binatang yang hanya digerakkan oleh naluri. Haal itu berarti manusia tidak memiliki keterbatasan tetapi dengan fitrah kemanusiaannya seseorang harus mampu mengatasi situasi-situasi batas yang mengekangnya.

Menurut Freire, jika seseorang pasrah, tetap pada sistem dan struktur yang sebenarnya usang dan menyerah pada sistem tersebut, sesungguhnya ia sedang tidak manusiawi. Seorang yang manusiawi justru harus menjadi pencipta sejarahnya sendiri. Dengan begitu, pendidikan yang memanusiawikan manusia dapat dikatakan mengintegrasikan antara IQ, EQ, SQ dan kecerdasan lainnya. Syaratnya, pendidik harus kuat dalam pemaduan itu.

Berdasarkan hal  diatas, bagi Freire pendidikan haruslah berorientasi pengenalan realitas diri manusia dan diri sendiri. Oleh karena itu, pendidikan harus melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektika yang ajeg, yakni antara pengajar, peserta didik dan realitas dunia. Yang pertama dan kedua adalah subjek yang sadar. Sementara yang ketiga adalah objek yang tersadari atau disadari. Hubungan dialektis semacam inilah yang tidak terdapat pada sistem pendidikan mapan selama ini.

Sistem pendidikan yang ada selama ini ibarat sebuah bank. Peserta didik diberikan pengetahuan agar kelak mendatangkan hasil yang berlipat-lipat. Peserta didik lantas diperlakukan sebagai bejana kosong yang akan diisi, sebagai sarana tabungan. Guru atau pelatih adalah subjek aktif. Peserta didik adalah subjek pasif yang penurut dan diperlakukan tidak berbeda. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dengan guru memberikan informasi yang harus ditelan oleh peserta didik yang wajib diingat dan dihafalkan. Berikut daftar antagonis pendidikan gaya bank yang sangat magis dan naïf :
1.   Guru mengajar sedangkan murid belajar
2.   Guru tahu segalanya sedangkan murid tidak tahu apa-apa
3.   Guru pikir sedangkan murid dipikirkan
4.   Guru bicara sedangkan murid mendengarkan
5.   Guru mengatur sedangkan murid diatur
6.   Guru memilih dan memaksakan pilihannya sedangkan murid menuruti
7.   Guru bertindak sedangkan murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan guru
8.   Guru memilih apa yang diajarkan sedangkan murid menyesuaikan diri
9.   Guru mengacaukan wewenang wawasan yang dimilikinya dengan wewenang profesionalismenya dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid
10.    Guru adalah subjek proses belajar sedangkan murid objeknya

Oleh karena guru atau pelatih menjadi pusat segalanya, maka menjadi hal yang lumrah jika murid mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai prototipe manusia ideal yang harus ditiru dan digugu serta diteladani dalam segala hal. Implikasinya, kelak murid-murid itu sebagai duplikasi guru mereka dulu. Pada saat itu, akan lahir generasi baru yang bersifat penindas. Jadi, penindasan bisa jadi diawali dari dunia pendidikan. (Suyatno, 2009:3)       

       

B.  Hakekat Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk social yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyataan itu, belajar berkelompok secara kooperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi, komunikasi dan sosialisasi karena kooperatif adalah miniatur dari hidup bermasyarakat dan belajar menyadari kekurangan serta kelebihan masing-masing.

Metode belajar yang menekankan belajar dalam kelompok heterogen saling membantu satu sama lain, bekerja sama menyelesaikan masalah dan menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal, baik kelompok maupun individual.

Jadi, model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri atas 4-5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karakter), ada kontrol dan fasilitasi, serta meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Langkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1.   Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
2.   Menyajikan informasi
3.   Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
4.   Membimbing kelompok belajar dan bekerja
5.   Evaluasi
6.   Memberikan penghargaan

Metode pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa tipe dengan langkah yang berbeda. Tipe pembelajaran kooperatif yang akan dibahas disini adalah tipe CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, dan  Extending). (Suyatno, 2009:51)


C.  Pengertian Model Pembelajaran CORE

Model CORE adalah sebuah model yang mencakup empat proses yaitu Connecting (menghubungkan informasi lama dengan informasi baru), Organizing (mengorganisasikan pengetahuan), Reflecting (menjelaskan kembali informasi yang telah diperoleh) dan  Extending (memperluas pengetahuan). (Tresnawati, 2006)

Tahapan pembelajaran dengan model CORE menawarkan sebuah proses pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk berpendapat, mencari solusi serta membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini memberikan pengalaman yang berbeda sehingga diharapkan bisa meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada diri siswa.
Model pembelajaran CORE merupakan model pembelajaran yang mencakup empat aspek kegiatan yaitu connecting, organizing, reflecting dan extending. Adapun penjelasan keempat aspek tersebut adalah : (Suyatno,2009:67)

¡     Connecting (C) merupakan kegiatan mengoneksikan informasi lama dan informasi baru dan antar konsep.
¡     Organizing (O) merupakan kegiatan mengorganisasikan ide-ide untuk memahami materi.
¡     Reflecting (R) merupakan kegiatan memikirkan kembali, mendalami dan menggali informasi yang sudah didapat.
¡     Extending (E) merupakan kegiatan untuk mengembangkan, memperluas, menggunakan dan menemukan.


D.  Karakteristik Model Pembelajaran CORE

Model pembelajaran yang menekankan kemampuan berpikir siswa untuk menghubungkan, mengorganisasikan, mendalami, mengelola dan mengembangkan informasi yang didapat. Dalam model ini aktivitas berpikir sangat ditekankan kepada siswa. Siswa dituntut untuk dapat berpikir kritis terhadap informasi yang didapatnya. Kegiatan mengoneksikan konsep lama-baru siswa dilatih untuk mengingat informasi lama dan menggunakan informasi/konsep lama tersebut untuk digunakan dalam informasi/konsep baru.

Kegiatan mengorganisasikan ide-ide dapat melatih kemampuan siswa untuk mengorganisasikan, mengelola informasi yang telah dimilikinya. Kegiatan refleksi, merupakan kegiatan memperdalam, menggali informasi untuk memperkuat konsep yang telah dimilikinya.

Extending, dengan kegiatan ini siswa dilatih untuk mengembangkan, memperluas informasi yang sudah didapatnya dan menggunakan informasi dan dapat menemukan konsep dan informasi baru yang bermanfaat


E.  Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran CORE
1.   Keunggulan
a.    Siswa aktif dalam belajar
b.   Melatih daya ingat siswa tentang suatu konsep/informasi
c.    Melatih daya pikir kritis siswa terhadap suatu masalah
d.   Memberikan pengalaman belajar kepada siswa,karena siswa banyak berperan aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi bermakna

2.   Kelemahan
a.    Membutuhkan persiapan matang dari guru untuk menggunakan model ini
b.   Menuntut siswa untuk terus berpikir kritis
c.    Memerlukan banyak waktu
d.   Tidak semua materi pelajaran dapat menggunakan model ini



F.   Sintaks Model Pembelajaran CORE

Ÿ    Membuka pelajaran dengan kegiatan yang menarik siswa yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan.
Ÿ    Penyampaian konsep lama yang akan dihubungkan dengan konsep baru oleh guru kepada siswa. Connecting (C)
Ÿ    Pengorganisasian ide-ide untuk memahami materi yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru. Organizing (O)
Ÿ    Pembagian kelompok secara heterogen (campuran antara yang pandai, sedang dan kurang), terdiri dari 4-5 orang.
Ÿ    Memikirkan kembali, mendalami dan menggali informasi yang sudah didapat dan dilaksanakan dalam kegiatan belajar kelompok siswa.  Reflecting (R)
Ÿ    Pengembangan, memperluas, menggunakan dan menemukan,melalui tugas individu dengan mengerjakan tugas. Extending (E)

Berdasarkan sintaksnya, model CORE sangat erat kaitannya dengan langkah-langkah Polya (1945) dalam pemecahan masalah matematika yakni:
(1)    memahami masalah
(2)    merencanakan pemecahannya
(3)    melaksanakan rencana
(4)    memeriksa kembali.

Proses Connecting erat kaitannya dengan langkah pemecahan masalah Polya yang pertama yakni memahami masalah. Connecting yang terjadi pada tahap apersepsi dan saat siswa mencoba memahami masalah serta menyelidiki kecukupan data mempermudah siswa untuk menyelesaikan persoalan yang diberikan, proses ini juga membuat siswa memaknai keterkaitan materi lebih mendalam sehingga siswa mampu menarik kesimpulan dan memahami materi yang diberikan dalam setiap pertemuan.
 
Proses Organizing erat kaitannya dengan perencanaan dan pelaksanaan rencana pemecahan masalah. Proses Organizing dalam diskusi kelompok dan diskusi kelas mampu membuat siswa terbiasa menyampaikan ide-ide atau pendapat mengenai strategi pemecahan masalah yang ada di pikirannya dan menerima pendapat orang lain, proses ini membuat siswa berpikir lebih terbuka.

Proses Reflecting erat kaitannya dengan memeriksa kembali. Proses Reflecting dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkaji ulang strategi pemecahan masalah yang telah dilakukan, memahami materi yang telah didapatkan dalam proses diskusi, mempelajari strategi orang lain dan memikirkan strategi yang tepat membuat siswa mampu menyadari kekeliruan saat mengerjakan soal dan berusaha memperbaikinya. Proses Extending yang merupakan tahap terakhir dalam pembelajaran menggunakan model CORE sangat dipengaruhi oleh proses-proses sebelumnya. 
BAB III
PENUTUP

Dalam penyusunan makalah ini, penyusun mendapatkan kesimpulan :
1.   Model pembelajaran Kooperatif tipe CORE adalah sebuah model yang mencakup empat proses yaitu Connecting, Organizing, Reflecting dan  Extending.
2.   Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran CORE yaitu memiliki keunggulan : siswa aktif dalam belajar, siswa terlatih daya ingat tentang suatu konsep/informasi, daya pikir kritis siswa terhadap suatu masalah bisa terlatih, serta memberikan pengalaman belajar kepada siswa secara aktif dan bermakna. Sedangkan kelemahannya yakni : guru membutuhkan persiapan matang sebelum pembelajaran, siswa dituntut untuk terus berpikir kritis, memerlukan banyak waktu dan tidak semua materi dapat menggunakan model pembelajaran CORE.
3.   Tahap-tahap pembelajaran CORE :
a.      Guru membuka pembelajaran.
b.     Guru menyampaian konsep lama yang akan dihubungkan dengan konsep baru kepada siswa.
c.      Guru memberikan konsep baru kemudian siswa mengorganisasian ide-ide untuk memahami materi.
d.     Pembagian kelompok dan pemberian soal-soal yang harus dikerjakan.
e.      Siswa menyelesaikan soal, memikirkan kembali, mendalami dan menggali informasi yang sudah didapat.  
f.      Melakukan proses pembahasan, kemudian siswa mengembangan dan memperluas melalui tugas individu.


Terima Kasih ,,,

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Suyatno, M.Pd. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif.  Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Jacob, C. 2005. Pengembangan Model ‘CORE’ dalam Pembelajaran Logika dengan Pendekatan Reciprocal. Bandung: FPMIPA UPI

Drs. Siarudin, M.Pd. 2012. Modul Kuliah “Materi Pembelajaran Matematika 4”

Drs. Sartono W. 2007. Matematika SMA 2 IPA. Jakarta: Erlangga.

ST. Negoro, B. Harahap. 2010. Ensiklopedia Matematika. Bogor: Ghalia Indonesia.

Purcell, Edwin J. , Verberg, Dale. 1982. Kalkulus dan Geometri Analitis.    Jakarta: Erlangga  










0 komentar:

Posting Komentar